Saat Bali Express (Jawa Pos Group) menyambangi rumahnya, Minggu (1/7) siang di Desa, Bungkulan, kakek tiga cucu ini sedang sibuk membuat Topeng Sidakarya pesanan pembeli. Tangannya begitu terampil memahat potongan kayu pule untuk dibentuk menjadi topeng Sidakarya.

Setelah menyampaikan maksud kedatangan, dengan ramah pria pensiunan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Buleleng tahun 2012 ini pun mempersilahkan koran ini duduk.

Selain dikenal sebagai penari dan pengrajin topeng, Suma Argawa juga seorang pelukis. Galerynya penuh dengan warna-warni lukisan yang terpajang di dinding galeri. Beberapa juga ada yang ditaruh begitu saja bersandar di tembok.

Tetapi yang menarik perhatian pastinya adalah jejeran topeng-topeng beragam jenis. Mulai dari tapel dengan beragam ekspresi, tapakan Rangda dan Barong, topeng Sidakarya dan Topeng Patih Gajah Mada juga terpajang di galerinya.

Sambil menyeruput secangkir kopi, Suma Argawa mulai bercerita tentang perjalanannya dalam dunia seni topeng. Ia berkisah, sebelum terjun menjadi pengrajin topeng, Suma Argawa adalah penari topeng Sidakarya. Selain itu, dirinya juga bersama almarhum Wayan Durpa membuat sekeha bondres.

“Dulu saya diajak sama almarhum Durpa untuk menari Topeng Sidakarya. Dari sana akhirnya tertarik untuk belajar membuat topeng,” ujar Suma Argawa kepada Bali Express.

Demi mendapat inspirasi dalam pembuatan topeng, Suma Argawa pergi ke Singapadu, Gianyar. Disana ia membeli sebuah topeng sembari belajar dari maestro topeng Wayan Tangguh.“Setelah belajar disana, selanjutnya coba-coba membuat di rumah. Tiga kali gagal. Buat lobangnya selalu tembus. Tapi karena terus belajar dan ditekuni akhirnya bisa seperti sekarang,” tuturnya.

Sebagai seniman topeng, Suma Argawa mengaku kerap mengalami hal-hal aneh di luar logika. Sebab, topeng dan tapakan yang dibuatnya merupakan benda sakral. Tak pelak, dirinya harus terbiasa dengan fenomena yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah.

Apa saja itu? Pria kelahiran 15 November 1956 ini membeberkan beberapa pengalamannya. Kala itu ia pernah membuat tapakan Rangda dan tapakan Barong pesanan. Begitu mulai dibuat tapakannya, tiba-tiba malam harinya kediamannya terdengar suara aneh dan misterius yang mengelilinginya.

“Suaranya seperti jedug..jedug..jedug. Seperti ada makhluk besar yang berjalan mengelilingi rumah. Bukan hanya saya saja mendengar, tetapi istri juga mendengar. Setelah diintip dari jendela, ternyata tidak ada apa-apa,” bebernya.

Pengalaman seperti itu berkali-kali ia alami apabila memulai pembuatan tapakan Rangda dan Barong. Namun lambat laun pengalamannya itu membuatnya terbiasa dan tidak didera rasa takut yang berlebihan.

“Karena sering mengalami akhirnya terbiasa. Baru mulai newasain (mencari hari baik, Red) membuat tapel khususnya Tapakan Rangda dan Barong setiap malam pasti seperti itu. Inilah taksu yang menghidupi dan menjiwai dari tapel itu sendiri” jelanya.

Pengalaman mistis juga pernah dialami saat dirinya memperbaiki tapakan Rangda yang usianya hampir 3,5 abad. Tapakan tersebut distanakan di salah satu Pura di Bungkulan. Sebelum diperbaiki sambung Suma Argawa mata Tapakan Rangda berusia ratusan tahun tersebut dalam kondisi borok dan calingnya hilang.

Setelah diperbaiki taksunya pun muncul. Tiba-tiba saat malam bertepatan dengan hari Kajeng Kliwon puluhan anjing melolong  di depan rumahnya.

“Keesokan harinya cucu saya tepat tidur di depan Tapakan Rangda itu distanakan. Ternyata cucu saya tidak bisa bangun, dia manggil-manggil. Akhirnya ada yang ngasi tahu agar tapakannya segera distanakan. Setelah tapakandibawa ke Pura, cucunya bisa bangun kembali,” ucapnya.

Bukan tanpa alasan mengapa topeng-topeng yang dibuat juga menunjukkan taksu dan menimbulkan kesan mistis. Pasalnya topeng tersebut dibuat dengan tahapan yang tidak sembarangan.

Artinya sebelum dibuat, harus melewati beragam prosesi. Mulai dari pemilihan dewasa (hari baik, Red), penggunaan banten hingga pemilihan kayu yang digunakan sebagai bahan baku topeng.“Setiap berkarya baik membuat lukisan, topeng pertama-tama harus cari dewasa. Utamakan hari Purnama dan Tilem. Tetapi paling sering digunakan pada Purnama. Karena bulan full dan benar-benar disucikan” ungkapnya.

Kondisi badan saat memulai bekerja membuat topeng juga harus bersih. Wajib mandi, keramas dan menggunakan kain putih. Terpenting adalah mengucapkan mantram penganugrahan untuk memohon kepada Mpu Wiswakarma, sehingga topeng kian metaksu. “Begitu mulai topeng dibuat biasanya selalu ada sesuatu yang janggal. Itu bagian dari taksu,” imbuhnya.

Sedangkan untuk pemilihan kayu bahan baku topeng, Suma Argawa lebih senang menggunakan kayu Pule. Sebab pohon ini memiliki nilai magis yang tinggi. Pohon Pule juga senang dihuni makhluk halus.

Selain alasan memiliki nilai magis, kayu pule juga mudah dan cepat dibentuk untuk menjadi tapel. Sehingga hanya butuh 3 hari hingga satu minggu untuk menyelesaikan sebuah tapel beragam jenis dan ukuran.

Hanya saja saat ini ada mimpi besar yang hingga kini belum bisa ia wujudkan. Yakni membuat Tapakan Barong Singa sebagai maskot Buleleng. Hanya saja cita-citanya terbentur biaya. Pasalnya pembuatan tapakan Barong Singa menelan biaya yang tidak sedikit.“Badannya saja bisa mencapa 10 juta. Karena biayanya lumayan, makanya belum bisa terwujud,” jelasnya.

Satu buah topeng ia jual dengan harga beragam. Khusus topeng Sidakarya dijual dengan kisaran hara Rp 500 ribu hingga Rp 1,5 juta. Sedangkan tapakan rangda dijual dengan harga Rp 10 juta. Namun yang paling fantastis adalah harga tapakan barong yang harganya mencapai Rp 25 juta per unit. 

(bx/dik/yes/JPR)

Source link