Selain menggunakan sarana banten yang sebagian besar menggunakan buah-buahan, seperti mangis, jeruk hingga sabrang, banjar adat yang giliran mempersiapkan sesajen juga harus menyiapkan ayam hutan alias keker. “Kalau buah yang sulit dicari itu ya Sabrang. Makanya di sini kami melestarikan pohon buah sabrang itu. Sehingga lebih mudah dicari. Sebab tidak boleh membeli,” ungkap Bendesa Adat Pengotan Jro Wayan Kopok.

Selain buah Sabrang, lanjutnya, dulu yang lebih susah dicari  keker (ayam hutan). “Karena keker ini tidak boleh dari membeli, tapi harus dari menangkap di sekitar hutan Desa Pengotan,” bebernya.

Makanya,  lanjutnya, dilaksanakan   pelepasliaran sembilan ekor ayam hutan jantan dan betina pada 2012 lalu. Desa Pakraman Pengotan juga menerapkan peraturan yang tertuang dalam pararem, bahwa di wilayah Pengotan tidak boleh dilakukan perburuan apa pun, apalagi ayam hutan. Tidak hanya aturan, sanksi pun diterapkan, dan sudah sempat dikenakan pada seorang pemburu.

“Sembilan ekor bibit keker itu merupakan pasangan. Supaya bisa berkembang biak. Sekarang keker ini sudah berkembang banyak, bahkan ada yang sampai masuk ke rumah-rumah warga, dan berbaur dengan ayam warga. “Nah meboros (menangkap/berburu) keker untuk dihaturkan saat pujawali itu bergiliran tiap banjar. Karena sama sekali tidak boleh dari membeli,” imbuhnya.

Selain soal sesajen, untuk pakaian para penari juga dia sebut sederhana. Bahwa para penarinya hanya menggunakan kamen putih dan saput kuning, tidak menggunakan baju dan destar. “Satu lagi, hanya ketika sesajen dihaturkan di ulun Bale Agung oleh peduluan dan pemangku, penari yang diabsen gesing itu bisa masuk ke ulun Bale Agung. Tapi begitu usai menari, tidak boleh lagi masuk ke ulun Bale Agung,” terangnya.

Lalu, pernahkah Tari Baris Babuang ini tidak dipentaskan? “Pernah sekali, itu sekitar tahun 2016. Karena ada perbaikan di Pura Bale Agung. Kalau tidak ada perbaikan itu, pasti dipentaskan tiap tahun,” ungkapnya.

Mengingat dari penuturan secara turun temurun, kalau tidak dipentaskan tanpa alasan jelas. Apalagi sampai tidak dilaksanakan pujawali Ida Bhatara Sakti Pingit yang berstana di Puri Anyar, hal buruk diyakini bisa terjadi. Seperti terjadinya kegeringan, masyarakat banyak sakit, atau ternak warga yang banyak mati, hingga pertanian warga yang rusak parah. “Intinya kami tidak berani tidak mementaskannya. Karena masyarakat kami meyakini, akan membuat tidak rahayu,” pungkasnya. 

(bx/wid/ima/yes/JPR)

Source link