DISELIDIKI: Personel Polres Pasuruan dan Polsek Lumbang berada di lokasi SDN 2 Pancur yang atapnya ambruk.
(Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

LUMBANG – Polres Pasuruan terus menyelidiki peristiwa ambruknya atap SDN Pancur II, Desa Pancur, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (26/1) dini hari. Sejauh ini, pihak kepolisian sudah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kasatreskrim Polres Pasuruan AKP Tinton Yudha Riambodo mengatakan, pihaknya masih terus menyelidiki penyebab ambruknya atap tiga ruang kelas di SDN Pancur. Dan, Sabtu lalu (26/1), Polres sudah menerjunkan tim identifikasi ke lokasi.

Selain itu, pihaknya juga sudah meminta keterangan sejumlah saksi yang mengetahui peristiwa ini. Yakni, saksi mata di lokasi, pemilik warung di depan SDN Pancur 2, Arba’i dan kepala sekolah setempat, Totok Jadmiko. Keduanya menjelaskan kronologi penyebab ambruknya atap tiga ruang kelas.

“Masih kami dalami. Kami sudah menerjunkan tim identifikasi sekaligus meminta keterangan sejumlah saksi di lokasi. Saksi Arba’i menjelaskan, sebelum ambruk ia mendengar suara gemuruh. Sementara kepala sekolah mengaku ambruknya atap diberitahu oleh saksi Arba’i,” ungkapnya.

Saat ditanya dugaan ambruknya atap tiga ruang kelas ini ada hubungannya dengan konstruksi, Kasat enggan berkomentar. Ia mengaku pihaknya tidak ingin menduga-duga. Pasalnya, Korps Bhayangkara ini masih mendalami peristiwa ini.

“Terkait penyebabnya apa. Kami belum dapat mengutarakannya. Kami masih menyelidikinya. Sebab, kami tidak ingin menduga-duga. Termasuk masalah konstruksi, tunggu saja hasilnya dari tim identifikasi, “Jelas mantan Kasatreskrim Polres Lumajang ini.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasuruan Bakti Djati Permana menjelaskan, pihaknya sudah mengetahui insiden ambruknya atap tiga ruang belajar di SDN Pancur II. Sabtu lalu, pihaknya menerjunkan petugas untuk menyerahkan terpal.

Terpal ini awalnya berfungsi untuk menutup atap ruangan yang ambruk agar siswa dapat belajar dengan nyaman. Namun, ternyata ruang ini tidak bisa digunakan. Karena itu, ia menyerahkan sepenuhnya penggunaan terpal ini pada lembaga sekolah.

“Kami hanya bertugas melakukan antisipasi dampak bencananya saja. Kalau perbaikannya bukan di kami, soalnya ini fasilitas umum. Kami hanya menangani yang perorangan saja. Namun, kami tidak tinggal diam. Kami akan memberikan rekomendasi pada dinas terkait,” tuturnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, atap ruang SDN Pancur II, Desa Pancur, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, ambruk Sabtu dini hari lalu (26/1). Atap yang ambruk ini berada di ruang kelas 1, 2, dan 3. Syukur, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Atap ruang belajar yang ambruk ini terakhir direhab pada 2015 menggunakan dana alokasi umum (DAU) sebesar Rp 250 juta. Meski dugaan awal penyebab ambruknya adalah karena tidak kuat menahan guyuran hujan, polisi memastikan akan tetap menyelidiki peristiwa ini.

(br/riz/fun/fun/JPR)

Source link