Proses pemeriksaan awal pasien sebelum dioperasi dilakukan tim baksos dari Ponpes Al Badri Kotok Kalisat, Selasa (20/2) kemarin.  Screenning yang dihadiri Wakil Bupati (Wabup) Abdul Muqit Arief itu melibatkan 292 pasien duafa. 

Meski lokasi Ponpes Al Badri ada Kecamatan Kalisat, namun sejumlah duafa yang butuh pemeriksaan mata sebelum dioperasi juga banyak yang datang dari Kecamatan Jelbuk, Ledokombo, Mayang, Silo, Sukowono, dan Sumberjambe.

Ketua Yayasan RSBS Jember drg. Abdul Rochim mengakui, selain ulama dan kalangan ponpes yang mendukung aksi kemanusiaan ini, Pemkab Jember juga kembali terlibat. Meski demikian, dia menegaskan kegiatan ini tidak menggunakan duit APBD Jember serupiah pun.

Kata Rochim, sejak Bupati Jember sebelum dr. Faida, rumah sakitnya sudah bermitra dengan Pemkab Jember. Terlebih, pasien yang akan dioperasi gratis tak lain masyarakat Jember yang benar-benar membutuhkan. “Bedanya, tahun ini duafa tidak perlu ke rumah sakit. Karena dokter mata dan timnya yang turun ke lapangan,” katanya.

Seperti tahun ini, sebanyak 1.709 pasien dengan gangguan penglihatan akan dioperasi secara bertahap. Keterlibatan pemkab secara profesional membantu mobilisasi pasien supaya bisa terlayani optimal. “Semisal menjemput pasien berobat dengan ambulans puskesmas, ambulans desa, hingga mobil kecamatan,” terangnya.

Tidak selesai di Ponpes Al Badri Kotok Kalisat, aksi kemanusiaan hari ini (21/2) akan dilanjutkan di Ponpes Darus Solihin, Puger. Sengaja memilih tempat di Puger karena di sana terdapat pasien paling banyak, yakni mencapai 139 orang. Namun, selain warga duafa Puger, masyarakat asal Kecamatan Balung, Gumukmas, dan Wuluhan yang mencapai 459 pasien juga bakal diperiksa di Ponpes Darus Solihin.

Sehari berikutnya, Ponpes Assyufiyah Ponjen Kencong bakal ditempati untuk melayani 196 pasien asal masyarakat Kencong, Umbulsari, dan Jombang.  Sedangkan pada 23 Februari 2018, sebanyak 226 pasien asal Kecamatan Ajung, Ambulu, Jenggawah, Mumbulsari, dan Tempurejo bakal ditempatkan di Ponpes Addimyati Wonojati Jenggawah.

Pada 26 Februari 2018, Ponpes Al Hasan Kemiri Panti dipilih menjadi tempat untuk mengobati 137 pasien dari Kecamatan Panti, Rambipuji, dan Sukorambi. Sedangkan pada 27 Februari 2018, Ponpes Fatikul Ulum Manggisan Tanggul dipilih untuk mengobati 202 pasien duafa dari Kecamatan Bangsalsari, Semboro, dan Sumberbaru.

Terakhir, kata drg. Abdul Rochim, pada 28 Februari 2018, Ponpes Darul Hikmah Krajningan Sumbersari dipilih jadi tempat untuk mengobati 195 pasein asal Kecamatan Arjasa, Kaliwates, Pakusari, dan Patrang. “Selain itu, ada juga pasien penerima bola mata palsu. Jumlahnya ada 21 orang,” imbuhnya.

Masih kata drg. Abdul Rochim, di luar pasien yang ada masih ada 1.178 pasien yang tak perlu dioperasi. Namun, mereka tetap menerima fasilitas kesehatan, seperti pemberian kacamata gratis. Mereka akan diperiksa dengan 4 gelombang. “Ternyata, waktu diperiksa daftar katarak, setelah diperiksa hanya butuh kacamata,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Faida yang dikonfirmasi terpisah juga menegaskan tidak ada duit APBD Jember yang masuk dalam kegiatan baksos operasi katarak untuk duafa. Katanya, pembiayaan operasi ditanggung RSBS Jember. “Karena ini aksi kemanusiaan, seperti sebelumnya Pemkab Jember ikut mensukseskan. Apalagi, penerima manfaatnya masyarakat duafa di Jember,” terangnya.

Kata Faida, sinergitas Pemkab Jember untuk aksi kemanusiaan juga bisa dilakukan dengan  pihak mana pun. Hal terpenting, katanya, semua tetap dilakukan dengan semangat 3 B, yakni baik tujuannya, benar hukumnya, betul caranya.

Sementara itu, Wabup Abdul Muqit Arief yang ditemui di Ponpes Al Badri Kotok Kalisat mengaku, kehadirannya di tengah-tengah duafa yang di-screenning seperti sedang napak tilas. Maklum saja, sebelum jadi wabup berpasangan dengan Bupati Faida, dia juga tercatat sebagai relawan kemanusiaan baksos RSBS Jember. 

(jr/rul/das/JPR)

Source link