Pertimbangan ini dilakukan, selain sebagai inovasi juga meningkatkan penjualan. Seperti yang dilakukan Bara Silver.

Pemilik Bara Silver, Putu Sudi Adnyani mencoba melirik logam karena memiliki harga lebih murah dibandingkan dengan bahan perak.

Dengan desain yang menarik dan unik, tingkat penjualan justru semakin meningkat. Sudi Adnyani mengatakan, sejak awal 2017 penjualan perak semakin sulit.

Untuk mendongkrak penjualan, dia mendongkrak penjualan dengan beralih bahan logam, tembaga, dan kuningan. “Ternyata peralihan dari perak ke logam cukup berhasil,” tuturnya.

Justru ada keuntungan menggunakan logam. Penjualan produk logam naik signifikan hingga mencapai 45 persen pada tahun 2017 lalu.

Keuntungan lain, produk logam bisa menyasar berbagai kalangan. “Untuk harga saya tidak bisa sebutkan. Karena ini menyangkut persaingan bisnis. Yang jelas, peralihan ini membawa dampak positif bagi usaha saya,” jelasnya.

Jika dibanding penjualan silver tahun 2016 di triwulan pertama hanya bisa melakukan penjualan 30 persen.

Dengan peralihan bahan dan harga terjangkau, konsumen yang biasanya hanya sanggup membeli satu buah kerajinan bahan silver kini bisa membeli 10 perhiasan dan asesoris dari bahan logam tersebut.

“Jadi kuantitas penjualan yang makin banyak,” ucapnya. Saat ini, dia tengah menjajaki kerjasama dengan perusahaan luar negeri dari negeri Matahari Terbit, Jepang.

“Baru mulai digarap ini. Karena sebelumya saya lebih suka dengan orang lokal Indonesia sendiri. Jadi saya coba kerja sama dalam penjualan ini,” paparnya.

Tahun 2018 ini, dia tetap optimis penjualan asesoris berbahan logam akan terus mengalami peningkatan.

(rb/zul/mus/mus/JPR)

Source link