NGAWEN Budidaya timun Jepang di Desa Trembul, Ngawen, memikat Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Untuk memastikan kabar tersebut, dia bersama rombongan meninjau langsung produksi timun yang sudah di ekspor itu.

Ganjar mengaku tertarik setelah datang ke lokasi budidaya timun Jepang. ”Menarik ya, setelah dapat informasi dari masyarakat, ternyata Blora ada koperasi yang mengelola budidaya timun dan sudah ekspor ke Jepang,” kata Ganjar kemarin.

Menurutnya, dalam satu bulan koperasi tersebut bisa menghasilkan omset Rp 400-an juta. Seandainya usaha dibina lagi lebih baik, dipastikan kualitasnya akan semakin baik.

Dari pengakuan pihak koperasi, kata Ganjar, ada persoalan dalam hal pembelian garam. Semula kontrak pertama pembelian garam seharga Rp 700. Namun dalam kenyataannya mencapai Rp 3.000. Selain itu, produksi timun yang diinginkan pihak Jepang ternyata bukan yang besar, namun sesuai dengan kotaan.

“Kotaan itu tidak terlalu besar. Hal inilah yang harus disiapkan dengan matang lagi. Ini perlu pembinaan. Syukur-syukur bisa potong kecil dan langsung ekspor,” jelasnya.

Pujianto, ketua Koperasi Wiratagama Mandiri menjelaskan, selama dua tahun ini sudah melakukan ekspor terus ke Jepang. Dalam satu tahun bisa mencapai 27 kontainer. “Kesulitan kami memang pada ketersedian garam. Apalagi harganya saat ini tinggi. Sehingga membebani operasional kami,” jelasnya.

Dia menambahkan, berdasarkan perhitungan sementara, hasil panen bisa mencapai 6 ton lebih per hektare. Biasanya panen kedua hasilnya dua kali lipat dibanding dengan panen perdana. Panen bisa berlangsung 3-4 kali. Adapun harga timun Jepang saat ini berkisar Rp 500 – Rp 2.000 per kilogram.

Menurutnya, saat ini di Indonesia baru ada satu pabrik pengolahan timun Jepang yang berada di Klaten dengan produksi masih terbatas. Alasannya, karena keterbatasan areal tanaman. Pihak perusahaan merencanakan akan membangun pabrik serupa di wilayah eks Karesidenan Pati. Dengan syarat utama memiliki areal tanaman yang memadai sesuai kuota yang ditetapkan.

”Untuk itu, kami mengajak petani di Blora, Rembang, Pati, Kudus, Jepara, dan Grobogan, ikut program kemitraan. Peluang pasar di Jepang masih cukup besar. Keuntungannya juga lumayan besar. Apalagi masa panennya 35-40 hari saja,” ujarnya.

Selain itu, budidaya timun Jepang memiliki sejumlah keuntungan dibanding budidaya tanaman lainnya. Misalnya dengan tanaman padi. Tanaman timun Jepang hanya butuh waktu pemeliharaan 40 hari atau dua kali selama tiga bulan.

Produksi rata-rata 4 kilogram setiap tanaman, atau 5.600 kilogram per 2.000 meter persegi, atau 28.000 kg per hektare. Hasil penjualannya mencapai Rp 28 juta. Setahun bisa panen 5-7 kali. “Dari proses tanam hingga panen tidak ada kendala yang memberatkan. Nyaris tidak diserang hama dan presentasi kematian tanaman juga relatif kecil. Untuk itu, kami sepakat menanam timun Jepang dengan pola kemitraan,” tegasnya.

(ks/sub/lil/top/JPR)