Pemkot Surabaya juga terus berupaya untuk menggandeng pengusaha agar tertarik dengan proyek yang berfungsi sebagai pencegah kemacetan kota ini. “Kami sedang lakukan komunikasi bersama dengan Bappenas untuk realisasi proyek trem,” Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Agus Imam Sonhaji, Sabtu (2/11).

       Dia mengungkapkan, setelah tidak mendapatkan lampu hijau terkait pendanaan dari pusat, maka Pemkot Surabaya terus berupaya merealisasikan proyek trem. Salah satunya menggandeng badan usaha maupun pengusaha untuk kerjasama pembangunan trem. “Selain anggaran APBD kerjasama dengan pihak lain (pengusaha) juga dibutuhkan,” ujarnya.

       Menurutnya, mekanisme tersebut juga akan dikonsultasikan dengan Bappenas. Sehingga, jika ada persetujuan kerjasama tidak ada pelanggaran apapun yang dilakukan oleh Pemkot jika proyek trem terealisasi. “Jawaban dari Bappenas sebagai legal opinion untuk pembangunan proyek trem,” imbuhnya.

       Sebagai leading sector, tambahnya, Pemkot akan mengundang para pengusaha agar tertarik dengan proyek trem. Saat rencana proyek trem dikemukakan pada 2013 lalu ada 26 pengusaha yang tertarik proyek pembangunan trem. Hal tersebut membuat Pemkot optimis jika proyek tersebut bisa dikerjasamakan dengan cepat.

       Selain itu, anggaran Rp 2,4 triliun yang diperkirakan untuk pembangunan proyek trem juga bisa berubah. Nantinya, Pemkot akan dibantu oleh tim ITS untuk dihitung lagi terhadap pengaruh inflasi dan kondisi ekonomi terkini. Sebab hitungan nilai proyek terakhir dihitung di tahun 2015 lalu.

Dia menambahkan, pada 2018 nanti diharapkan proyek trem bisa mulai dikerjakan. Sehinga ditargetkan dalam jangka waktu dua tahun proyek jalur utara-selatan itu bisa dinikmati masyarakat. “Diharapkan dengan adanya trasportasi massal yang cepat maka penggunaan kendaraan pribadi bisa diminimalisir,” pungkasnya. (vga/hen)

(sb/vga/jek/JPR)