ERA materialisme saat ini, kejujuran telah banyak disepelekan dari tata pergaulan sosial ekonomi politik dan disingkirkan dari bingkai kehidupan manusia. Fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan. Drama ketidakjujuran saat ini telah berlangsung sedemikian transparan, dan menjadi semacam rahasia umum yang merasuki berbagai wilayah kehidupan manusia.

Wujud manusia jujur telah menjadi makhluk langka di bumi ini. Kita lebih mudah mencari orang-orang pintar daripada orang-orang jujur. Keserakahan dan ketamakan kepada materi kebendaan, mengakibatkan manusia semakin jauh dari nilai-nilai kejujuran dan terempas dalam kubangan materialisme dan hedonisme yang cenderung menghalalkan segala cara.

Padahal tidak dipungkiri, bangsa Indonesia adalah bangsa yang berpenduduk mayoritas muslim. Namun sungguh aneh, bangsa ini sangat dikenal dengan praktik korupsi, kolusi, nepotisme (KKN) atau praktik tercela lain. Berbagai isu kemiskinan, pengangguran, pornografi, kekerasan anak, dan penilapan uang rakyat masih menjadi hiasan terdepan berita nasional.

Kondisi semacam itu diperparah dengan kebingungan bangsa dalam membuat model atau formula serta menata karakter dan moralitas generasi penerus bangsa. Revolusi mental yang dicanangkan pun belum menyentuh sendi-sendi kehidupan yang lebih baik, bahkan seperti jalan di tempat tanpa ada perubahan.

Para pemimpin bangsa ini lebih suka disibukkan dengan agenda-agenda pribadi untuk memperkaya dan memperkuat posisi jabatan. Kesusahan rakyat tidak pernah mereka dengar. Penderitaan mereka seakan dijadikan tumbal memperlancar kepuasan hawa nafsu. Banyak di antara mereka yang lupa amanah rakyat.

Sementara itu, di tengah suasana Ramadan yang penuh keberkahan ini, sudah seharusnya seluruh komponen bangsa mampu introspeksi diri. Semua perlu menjadikan Ramadan titik perubahan perilaku dan karakter bangsa. Ramadan jangan hanya sekadar menjadi kegiatan tahunan tanpa sebuah makna.

Ramadan seharusnya menjadi media yang efektif untuk mengubah diri lebih dari tiap tahun. Seorang yang berpuasa harus mampu menjadikan nilai-nilai puasa sebagai landasan perilaku dan kehidupan sehari-hari.

Tidak hanya ketika bulan puasa, namun juga di luar bulan puasa. Karena Tuhan Allah di bulan Ramadan juga sama dengan Tuhan Allah di luar bulan Ramadan. Maka salah jika ada orang tidak mau korupsi di bulan Ramadan, namun di luar bulan Ramadan rajin mengambil uang rakyat. Orang seperti ini tentunya gagal dalam menjadikan Ramadan sebagai titik perubahan karakter dan perilaku.

Di antara nilai yang diajarkan dalam berpuasa adalah mampu sabar menahan diri. Karena orang yang dapat mengendalikan hawa nafsunya akan selalu akan mempertimbangkan baik buruknya suatu keinginan. Karakter ini sangat dibutuhkan oleh seluruh komponen bangsa ini terutama para pemimpinnya.

Dengan memiliki karakter semacam ini, seseorang tidak akan menghalalkan segala cara dalam memperoleh apa yang dia inginkan. Ia bisa menahan diri walaupun ia sangat menginginkan. Ia sadar bahwa kalau bukan haknya maka ia tidak boleh mengambilnya. Ia selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasinya. Seperti halnya ketika dia berpuasa, walaupun lapar atau haus, ia tetap bertahan sampai datangnya waktu berbuka.

Selanjutnya, di antara karakter yang sangat dibutuhkan untuk bangsa ini adalah kedisiplinan dan kejujuran. Nilai itu, telah diajarkan satu bulan penuh selama bulan Ramadan. Hal itu, sangat terlihat ketika menjelang berbuka puasa. Hanya kurang satu menit pun jika belum yakin telah masuk waktunya untuk berbuka, semua orang tidak mengenal tua atau pun muda patuh dan disiplin untuk menunggunya.

Nilai ini seharusnya terus dikembangkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga kita sebagai bangsa yang mayoritas umat muslim tidak tertinggal dari bangsa barat. Mereka telah membudayakan disiplin di segala bidang; dari budaya antre, membuang sampah, sampai budaya taat berlalu lintas.

Dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi suatu bangsa akan mampu membangun peradaban yang maju. Karena semua berjalan sesuai dengan aturan. Tidak ada budaya ”teman sendiri” atau ”kelompok kita”. Semua orang dituntut untuk mampu bekerja secara profesional. Nilai semacam ini sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah bersabda: ”Sesungguhnya Allah Swt mencintai seseorang apabila mengerjakan sesuatu dengan penuh profesional” (HR Ath-Thabari).

Karakter lain yang diajarkan puasa adalah peduli terhadap sesama. Dalam puasa diajarkan nilai solidaritas sosial dengan anjuran berbuat baik sebanyak mungkin, terutama dalam bentuk tindakan menolong kaum fakir miskin. Jika hal ini berjalan terus pada waktu lain di luar bulan Ramadan maka akan menjadi karakter bangsa yang luhur. Karakter akan bisa menuntaskan berbagai problematika sosial mulai dari; kemiskinan, pengangguran dan anak jalanan.

Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan hubungan antara keimanan dan amal saleh, antara ibadah ritual dan ibadah sosial. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, sesungguhnya ada orang yang datang kepada Nabi Saw. Lantas berkata,”wahai Rasulullah, siapa manusia yang paling dicintai Allah? Amalan apa yang paling disukai Allah?” Rasulullah bersabda, ”kebahagiaan yang engkau masukkan dalam hati seorang muslim atau engkau hilangkan kesusahannya atau engkau lunasi utangnya atau usir laparnya. Sungguh, saya berjalan bersama seseorang dalam menunaikan keperluannya lebih aku sukai daripada iftikaf di masjid ini (Masjid Madinah) selama satu bulan (HR Al-Baihaqi).

Karakter seperti sabar, disiplin, profesional, peduli terhadap sesama, sangat penting untuk membangun kembali bangsa ini yang telah lama terkena multikrisis berkepanjangan. Semoga kita mampu memaknai nilai-nilai Ramadan tahun ini.(*)

*) Guru di Pesanggaran, Banyuwangi

(bw/mls/ics/JPR)

Source link