Sumayyah, 57, menuturkan, sakit jiwa yang dialami anaknya itu sejak usia 9 tahun. Dulu SA hanya demam biasa. Tetapi semakin lama mentalnya terganggu. Selama ini dirinya sudah membawa anaknya itu berobat ke mana-mana.

Mulai dari pengobatan medis di rumah sakit jiwa (RSJ) hingga pengobatan alternatif. Tetapi, upaya tersebut tidak membuahkan hasil hingga membuat gadis 15 tahun itu sembuh. ”Sebenarnya saya tidak tega melihat dia dirantai. Tapi kalau tidak begitu dia bisa lari dari rumah,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sampang Firman Pria Abadi mengatakan, sejak 2015 warga yang mengalami gangguan jiwa 155 orang. Pada 2016 pihaknya melaksanakan program bebas pasung terhadap 27 orang gangguwan jiwa. Pada 2017 membebaskan 53 orang. Sedangkan 2018 hanya 11 orang.

Mereka tersebar di Kecamatan Sokobanah, Kedungdung, Banyuates, dan Karang Penang. ”Sudah ada 91 orgil dibebaskan dari pasung. Sisanya, 64 orang belum dilepas karena masih dalam tahap pengobatan atau penyembuhan,” terangnya Sabtu (7/7).

Dia mengatakan, program bebas pasung perlu mendapat dukungan keluarga dan masyarakat. Sebab, hal itu sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan. Cepat atau tidaknya masa penyembuhan juga bergantung terhadap kondisi lingkungan sekitar.

Pihaknya mengklaim aktif memeriksa kesehatan dan perkembangan kejiwaan SA. Juga melepas rantai yang mengikat tangan kirinya itu. Setiap bulan petugas puskemas datang untuk memberikan obat dan menjaga kebersihan tubuh pasien. ”Rantainya sudah kami lepas. Kalau sekarang dipasang lagi itu kami belum tahu,” katanya. 

Dalam penanganan orang gangguan jiwa, dinkes bekerja sama dengan tenaga kesejahteraan sosial (TKS) kecamatan untuk melakukan pendataan. Kemudian, puskesmas menindaklanjuti dengan memeriksa kesehatan pasien secara rutin dan memberikan obat.

Menurut dia, orang gila (orgil) bisa sembuh jika diobati secara rutin. Namun, selama ini masih banyak pihak keluarga yang tidak mau melepas pasung atau rantai. Mereka khawatir pasien bisa ngamuk dan lari dari rumah.

”Ada juga keluarga yang malu untuk melapor karena itu dianggap sebagai aib. Orgil justru dipasung atau dikurung dalam rumah. Padahal, mereka tidak akan ngamuk atau kabur jika diberikan perhatian yang baik,” ujarnya.

Pria asal Pamekasan itu berharap agar keluarga, tokoh masyarakat, dan lingkungan bisa berperan aktif membantu penyembuhan orgil dan menyukseskan program bebas pasung. Sehingga,  pasien dengan gangguan jiwa tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa sembuh dan beraktivitas seperti manusia normal.

”Mereka butuh dukungan moril untuk sembuh, bukan dipasung. Apalagi, pasung dilarang karena melanggar hak asasi manusia (HAM). Pada 2019 mendatang pemerintah menargetkan Indonesia bebas pasung. Kami harap masyarakat bisa mendukung,” terangnya.

Selain memberikan pengobatan gratis, dinkes juga berkoordinasi dengan dinas sosial (dinsos) dalam membantu meringankan kebutuhan hidup keluarga. Misalkan, bantuan sembako, pakaian, dan semacamnya. ”Pada umumnya para penderita gangguan jiwa itu disebabkan faktor ekonomi keluarga yang miskin, tidak bekerja, dan tidak mempunyai penghasilan,” tukasnya.

(mr/nal/luq/bas/JPR)