Salah satunya dengan memberi ruang seluas-luasnya kepada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Iskak untuk berinovasi.

Instalasi gawat darurat (IGD) modern atau instagram adalah inovasi pertama yang lahir dari rumah sakit pemerintah ini. Di saat rumah sakit lain disibukkan soal pemasukan dan operasional, RSUD dr Iskak sudah melaju beberapa langkah.

CANGGIH : Tenaga medis RSUD dr Iskak berada di ruangan penanganan serangan jantung.
(RSUD dr. Iskak Tulungagung for RATU)

“Bukan lagi bicara soal mengobati, tapi kami berpikir bagaimana menurunkan angka kematian dan meningkatkan potensi keselamatan melalui manajemen kegawatdaruratan,” kata Direktur RSUD dr Iskak, dr Supriyanto Harmoredjo, SpB, FINACS.

Program ini sukses menyabet penghargaan TOP 35 Inovasi Pelayanan Publik tingkat nasional tahun 2016. Kesuksesan ini mendorong berkembangnya upaya penanganan situasi gawat darurat dengan melibatkan banyak pihak di luar rumah sakit.

Dorongan pemerintah daerah Tulungagung pada akhirnya menjadi penentu lahirnya inovasi penanganan situasi gawat darurat terpadu yang melibatkan banyak institusi. Mereka menyebutnya dengan Tulungagung Emergency Medical Service (TEMS).

TEMS sukses menyinergikan kerja petugas medis di RSUD dr Iskak, Polres Tulungagung, kodim, badan penanggulangan bencana Daerah, dan unit pemadam kebakaran ke dalam sebuah sistem koordinasi.

Memanfaatkan teknologi informasi sebagai tulang punggung kerja, seluruh institusi itu bisa digerakkan dalam waktu singkat saat terjadi situasi gawat darurat, melalui kendali pusat di RSUD dr Iskak.

Sistem serupa berhasil dikembangkan di Amerika, yang dikenal dengan panggilan darurat 911. Di Tulungagung, sistem yang sama dilakukan melalui sambungan telepon 320-119.

Kecepatan tindakan atau respond time TEMS ini juga diklaim sangat cepat untuk melakukan pertolongan. Termasuk penanganan sindroma koroner akut atau serangan jantung yang menjadi momok pembunuh nomor satu di dunia.

Dr Evit Ruspiono SpJP, salah satu penggagas layanan sindroma koroner akut (laskar) dari RSUD dr Iskak Tulungagung mengatakan, kecepatan pemberian tindakan kepada pasien jantung menjadi kunci penyelamatan.

Karena itu, kecepatan melakukan tindakan tak lagi bisa ditawar dan menjadi standar baku operasional laskar.

“Butuh koordinasi dan kecepatan tindakan sejak di ruang IGD,” kata dr Evit.

Kecepatan serupa juga diberlakukan kepada petugas Puskesmas yang menangani pasien kali pertama agar bisa melakukan pertolongan awal dan melarikan ke rumah sakit.

Inilah tantangan terbesar pembangunan layanan sindroma koroner akut di RSUD dr Iskak yang diganjar sebagai 99 Inovasi Nasional terbaik tahun 2018.

Tak hanya soal kecepatan dan ketepatan penanganan kegawatdaruratan, RSUD dr Iskak juga berhasil mengambil alih urusan kesehatan masyarakat yang menjadi beban negara. Tanpa membebani APBD pemerintah daerah, rumah sakit ini mampu membiayai kebutuhan pasien miskin dari pendapatan mereka.

“Masyarakat Tulungagung tinggal bekerja meningkatkan produktivitas, anak-anak muda tinggal sekolah dan belajar. Soal kesehatan, khususnya masyarakat tidak mampu biar kami yang urus,” kata dr Supriyanto.

Sejak tahun 2012-2018, pendapatan RSUD dr Iskak mengalami peningkatan cukup signifikan. Bahkan, target pendapatan rumah sakit pada tahun 2017 yang dipatok sebesar Rp 215 miliar, telah terealisasi sebesar Rp 247 miliar atau jauh melebihi target.

“Butuh komitmen internal maupun eksternal yang kuat untuk mencapai ini. Selain sinergitas antarlembaga pemerintah dan legislatif di Tulungagung,” kata dr Supriyanto.

Iklim pemerintahan yang sehat inilah, yang pada akhirnya memicu munculnya berbagai inovasi layanan kesehatan RSUD dr Iskak Tulungagung.

Rumah sakit ini juga tak alergi untuk mengikuti perkembangan jaman dengan menggandeng berbagai pihak dalam pemanfaatan fasilitas digital. Sehingga meski berstatus rumah sakit pemerintah, standar operasional dan layanan RSUD dr Iskak tak kalah dengan rumah sakit swasta ternama.

“Selain itu, ada juga pelayanan antrean secara online. Panggilan darurat kapan dan di mana saja, dengan 39 ambulans yang stand by di Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya.

Kini, program TEMS yang telah berganti baju menjadi public safety center (PSC) telah diadopsi sedikitnya 138 kabupaten dan kota di Indonesia dalam Nasional Command Center 119. (*)

(rt/lai/ang/JPR)