Salah satunya adalah Ari Siswanto, warga Banyu Urip Lor X RW 6 yang sudah 18 tahun menekuni usaha tersebut. Ari bersama 80 pelaku usaha lontong lainnya, yakni para tetangganya di RW 2 dan RW 7 mengaku, jika di hari-hari biasa mereka biasanya dapat menghasilkan 700 lebih lontong, namun selama bulan puasa mereka hanya dapat menghasilkan 300-400 lontong. Hal ini dikarenakan sepinya pembeli lontong saat bulan puasa. Selain itu, lontong hanya dapat bertahan selama 24 jam, padahal mereka setiap hari memproduksi.

“Kalau ndak habis kan sayang. Kalaupun masuk kulkas bisa tahan 2-3 hari saja,” terangnya di Surabaya, Kamis (24/5).

Ari menjelaskan, pada hari-hari biasa mereka biasanya menghabiskan 2 ton beras setiap harinya. Selama bulan puasa ia hanya menghabiskan 25-30 kilogram beras setiap harinya. Namun di sisi lain, ketika tiba di hari malam takbiran atau H-1 Lebaran, permintaan lontong akan meningkat drastis hingga tiga kali lipat bahkan lebih. Menurutnya, kondisi ini akan bertahan hingga seminggu setelah Lebaran. 

“Saat hari raya dan seminggu setelahnya itu biasanya kami sampai kewalahan memenuhi permintaan,” tuturnya.

Ari dan 80 pelaku usaha lontong lainnya yang tergabung di P2LM merupakan suplier lontong untuk seluruh wilayah di kota Surabaya. (cin/hen)

(sb/cin/jek/JPR)