“Tidak ada alasan lagi di bulan Ramadan ini leha-leha, lemas, atau tidak masuk kerja dengan alasan karena salat subuh berjamaah. Kalau memiliki niat yang baik, Allah SWT pasti akan memberikan berkah kepada kita,” ujar Hendi sapaan akrab wali kota.

Selama bulan Ramadan, pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Semarang telah memperoleh keleluasaan jam masuk kerja yang semula pukul 7.00 – 16.00 kini mundur menjadi 08.00-15.15.

“Coba kita hitung secara matematika, hari biasa kita masuk jam 07.00 WIB, pulang jam 16.00 WIB. Kemudian di bulan puasa kita bisa menyelesaikan aktifitas kita, masuk jam 08.00 WIB, pulang jam 15.15 WIB. Jadi yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana kita mengukur, atau bagaimana sebuah aktifitas kita menjadi berkualitas,” terangnya. 

Dalam tausiyahnya, orang nomor satu di Kota Semarang, itu juga mencermati terkait pemberitaan di media sosial. Hendi berpesan kepada para jamaah untuk tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoax. Hal itu perlu dilakukan untuk menjaga kondusifitas Kota Semarang apalagi di bulan Ramadan ini.

Data dari Kemenkominfo pada tahun 2017, diperkirakan ada 800 ribu berita hoaxs yang beredar di seluruh daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika tidak ada komitmen yang tinggi untuk menangkal berita hoaxs ini, maka akan menggugurkan ibadah di bulan Ramadan.

“Jika panjenengan baca dan tidak jelas darimana asalnya dan tidak jelas kebenarannya cukup untuk panjenengan saja, tidak perlu di share. Tapi jika panjenengan baca dan yakin adanya manfaat, baru boleh di share,” pintanya.  

(sm/zal/bas/JPR)