Hermanto Rahman, Direktur Program Universitas Membangun Desa Universitas Jember mengungkapkan, Unej sampai saat ini masih konsen melakukan pendampingan. Dimana untuk Desa Glingseran, UMD Unej menjadi inisiator munculnya wisata desa. “Kami berpikir, desa harus ada evaluasi dan inovasi,” ujarnya.

Untuk itu, pihak desa diajak untuk studi tiru di Pujon, Malang beberapa waktu lalu. Dimana dengan bentuk geografis yang hampir sama, Wisata Desa Pujon bisa memiliki aset Rp 4,5 M. Bisnisnya tentu tidak membidik pemandangan, namun juga kuliner. “Sehingga orang kesana tidak hanya berfoto, melainkan juga bisa belanja dan kuliner,” paparnya.

Sedangkan sampai saat ini, pihak desa masih mengandalkan wisatanya saja, kedepan pihaknya ingin agar ada perkembangan kearah kuliner. Karena itu, siang kemarin (3/12), UMD memberikan stimulus tambahan giasan payung di Wisata Taman Rengganis, Glingseran. 

Hermanto menambahkan, adanya wisata kuliner itu bisa dibuat dengan membentuk unit BUMDesa. Sebab bekalnya sudah ada. Misalnya setiap akhir pekan atau liburan saja, banyak pengunjung yang memang mau datang ke wisata sawah-sawah tersebut. Hal itu menjadi modal utama, penggerak bisnis kuliner. “Namun harus tertata dengan rapi,” akunya. 

Sementara Kepala Disparpora Harry Patriantono mengungkapkan, inovasi untuk setiap objek wisata itu perlu. Sebab tujuan orang ke suatu tempat wisata itu, tidak hanya mencari apa yang bisa dipandang. Namun mencari apa yang bisa dilakukan dan mencari apa yang bisa dipelajari. “Ada nilai something to do and to enjoy dan juga something to buy and to remember, maka orang akan kembali untuk mencari kenikmatan itu,” akunya. 

Dari sisi pemerintah, selama ini pihaknya sudah membuat kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Pokdarwis ini adalah masyarakat sekitar wisata. Dan Glingseran sudah terbentuk. Selama ini juga ada pembinaan. Sehingga ketika ada inovasi dari desa, akan bisa langsung berintegrasi dengan masyarakat. 

(jr/hud/wah/das/JPR)

Source link