Upacara peringatan hari Kebangkitan Nasional di halaman blok C Lapas IIa itu berlangsung khidmat. Dimulai pukul 08.00, peserta didominasi sipir dan petugas lapas. Ada yang mengenakan pakaian korpri, ada yang berpakaian atasan putih dan bawahan hitam. Total sekitar 50-an orang.

Tapi, ada yang sedikit berbeda di sisi barat. Tujuh perwakilan narapidana yang menggunakan kaos merah dan bawahan gelap. Mereka tampak mengikuti rangkaian proses upacara dengan khidmat.

Hingga saatnya ke tujuh narapidana itu dipanggil ke tengah lapangan. Mendatangi Kepala Lapas Kusmanto Eko Putro yang menjadi inspektur upacara. Ternyata, mereka sedang dilakukan pengukuhan. “Mereka warga binaan terpilih untuk dilakukan pendidikan dan pelatihan keterampilan,” beber Humas Lapas Kediri Didi Rahmadi. Mereka dinamakan Pasukan Merah Putih Narapidana. Sebagai awal, pelatihan yang diberikan adalah keterampilan pertukangan. Keberadaan mereka sebagai bagian upacara bendera tersebut terasa istimewa karena ratusan narapidana lainnya berada di masjid dan dalam sel.

Pengukuhan itu hanyalah satu dari rangkaian kegiatan peringatan Kebangkitan Nasional. Sejumlah kegiatan positif pun dilakukan warga binaan. “Ada instruksi dari Dirjen Pemasyarakatan tentang wujud peran aktif warga binaan,” jelasnya.

Kegiatan lainnya yang dipamerkan adalah menenun. Kegiatan berada di lantai dua gedung utama lapas. Setidaknya ada empat penenun yang terlihat sibuk. “Mereka sudah produksi hingga tiga meter kain dalam seminggu,” terangnya. Setelah jadi, hasilnya pun diambil oleh mitra. Mereka berasal dari produsen kerajinan tenun di wilayah Bandar.

Tak sekadar menjadi bagian dari kegiatan positif warga binaan. Keterampilan menenun ini juga diharapkan bisa menghasilkan produk unggulan dari masing-masing lapas. “Biasanya masing-masing lapas punya unggulan sendiri-sendiri. Seperti industri perkayuan, otomotif atau lainnya. Kalau di (Lapas) Kota Kediri ya kain tenun ini,” bebernya.

Pelatihan keterampilan ini juga diharapkan bisa menjadi latihan kemandirian bagi para warga binaan. Khususnya setelah para warga binaan menyelesaikan masa hukuman.

Selain upacara dan menenun, satu lagi kegiatan positif yang dijalani para warga binaan. Yaitu mengaji. Bertempat di masjid lapas yang terletak di sisi selatan.  Beberapa warga binaan membentuk kelompok. Terlihat ada tiga kelompok yang terlihat khusyuk. Masing-masing kelompok terdiri dari dua hingga tiga orang.

“Yang mengajari juga narapidana sendiri,” jelas Didi. Sebelumnya, narapidana terpilih diminta mengaji di pondok hingga lancar. Setelah itu, kembali ke lapas dan mengajari teman-temannya.

Kemarin, suasana tenang sangat terasa. Meski yang mengaji hanya segelintir warga binaan, puluhan lainnya tampak menyimak. Duduk di teras masjid, mereka ikut mendengarkan teman mereka mengaji. Mungkin, bulan Ramadan membuat para warga binaan ingin ikut merasakan kekhusyukan.

Menurut Didi, kegiatan mengaji ini sebenarnya tidak hanya terlaksana saat peringatan kebangkitan nasional, kemarin. Tetapi, sudah dilakukan setiap hari. “Biasanya mulai pukul 09.00 hingga salat Duhur,” jelasnya. Harapannya, warga binaan akan menjadi sosok yang lebih baik saat keluar dari lapas nantinya.

(rk/*/die/JPR)

Source link