Ketua Tim PKM-M Unnes, Daffa Savero R, mengatakan, santri di pondok pesantren ini berasal dari kalangan yatim dan dhuafa. Sehingga pengabdian ini sangat perlu dilakukan guna memberikan bekal kemandirian para santri pasca menyelesaikan hafalan Alquran.

“Selama ini santri selalu disibukkan dengan kegiatan menghafal Alquran saja, belum ada upaya pengembangan skill. Nah, lewat kegiatan ini kami memberikan bekal keterampilan sebagai modal menatap masa depan,” kata Daffa didampingi anggota timnya, M Hasan Muiz, Abdul Basit, Dhiva Ulhusan, dan Wahyu Retno N.

Dijelaskan, kegiatan pengabdian dilakukan selama 3 bulan, sejak April hingga Juni mendatang. Serangkaian kegiatan pengabdian di antaranya, pelatihan kaligrafi, pelatihan batik, pelatihan kaligrafi batik Semarangan, pelatihan marketing, dan pameran hasil karya pelatihan santri .

Jamat Jamil SPd MPd, salah satu ustadz di pondok tersebut mengatakan, kegiatan tersebut sangat diharapkan sebagai bekal para santrinya, baik saat ini maupun yang akan datang. “Untuk menjadikan program ini terus berlanjut, kami sedang merancang USB atau Unit Santri Berkreasi yang nantinya akan menjadi wadah bagi santri dalam mengembangkan kreasi santri, khususnya dalam menulis kaligrafi dan membatik Semarangan,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain diikuti para santri dan ustadz setempat, beberapa murid dan guru sekolah lain juga ikut serta mengikuti program ini.Diantaranya,dari Mutiara Hati, Al Kamilah, dan Cahaya Bangsa.

(sm/aro/zal/JPR)