Tahapan ini merupakan validasi data saat bertarung di Shell Eco Marathon (SEM) Asia 2018 di Singapura, Maret lalu. Mobil dengan nomor urut 905 ini sukses menempuh 336 km/liter. 

Race validasi data yang telah dilakukan, Jumat (6/7) merupakan validasi dari pencapaian SEM Asia tersebut. “Kami harus menempuh minimal 95 persen dari hasil pencapaian SEM Asia. Dengan pencapaian kita di Asia 315 km/liter, maka kali ini minimal mencapai 300 km/liter dengan dua kali finish,” tutur Billy Firmansyah, Manajer Nonteknis ITS Tim Sapuangin, kemarin.  

Dijelaskan Billy, kesempatan race yang diberikan pada tiap tim yaitu empat kali. “Jumat (6/7,Red) kemarin, kami mengambil tiga kali kesempatan dari empat kali kesempatan yang tersedia,” ujar mahasiswa Departemen Teknik Mesin tersebut. 

Namun, saat race akhirnya Tim Sapuangin hanya mengambil dua kali race dari tiga kesempatan yang ada. Pencapaian untuk race pertama yaitu 336 km/liter dan pada kesempatan kedua 305 km/liter.

Capaian tersebut sekaligus mematahkan rekor mobil Sapuangin XI EVO generasi kedua sendiri yang merupakan kendaraan teririt di dunia dengan capaian 316 km/liter saat di SEM Asia. “Namun bukan misi tersebut yang kami bawa. Kami tetap fokus untuk membawa misi memenangi Drivers’ World Championship Grand Final pada hari Minggu tegas Billy bersemangat.

Walau sejauh ini Tim Sapuangin tak menemui kendala berarti, hal seperti cuaca yang tak bisa diprediksi sangat dikhawatirkan oleh tim. “Beberapa hari ini cuacanya sangat terik, semoga sampai pertandingan nanti pun demikian. Tiket mengikuti DWC sudah ditangan dan kami memohon doa dan dukungan dari seluruh pihak semoga bisa mendapatkan hasil yang terbaik,” pungkas Billy. (gin/rud)

(sb/gin/jek/JPR)