Dalam sambutannya Sekda Provinsi Bali mengingatkan kampanye hidup sehat ini harus dilaksanakan secara berkelanjutan, karena kesehatan merupakan hak dan urusan individu dengan menerapkan pola hidup sehat. Melibatkan elemen masyarakat di pelosok-pelosok desa, dan mengarahkan anggaran kesehatan pemerintahan untuk upaya promotif dan preventif. 

“Upaya promotif lebih penting dari tindakan-tindakan operatif, sebab kalau ini berhasil dengan baik maka anggaran kesehatan di rumah sakit dan puskesmas bisa dikurangi secara signifikan sehingga bisa diarahkan untuk program pengembangan sumber daya manusia lainnya,” ujarnya. Ketut Suaryaja, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali menambahkan visi dan misi Indonesua sehat dimulai dari tiga pilar yakni lewat promosi kesehatan, penguatan layanan kesehatan, dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Ia juga menyampaikan pendekatan kesehatan harus proaktif, dan lintas sektor juga harus berupaya lewat germas selain melakukan pendekatan keluarga karena germas harus dimulai dari individu.

“Kesehatan tanggung jawab dan kebutuhan kita semua. Germas adalah gerakan yang sistematis dan terencana yang dilakukan dengan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat,” timpalnya. 

Dari data yang ada jelasnya 92 persen di Bali kurang mengonsumsi buah dan sayur, dan 36,7 persen masyarakat Bali aktif mengonsumsi alkohol. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik perokok pada remaja di Bali meningkat. 

Suarjaya menekankan budaya hidup bersih harus dimulai dari diri sendiri, dan mengajak keluarga untuk mulai hidup sehat dengan mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Sebab di Bali hanya 25 persen anak-anak yang memiliki gizi yang normal, sisanya obesitas atau kekurangan gizi. 

“Sebagian besar konsumsi daging ini naik, akhirnya terjadi penyakit tidak menular seperti obesitas, hipertensi, jantung dan gagal ginjal. Dan konsumsi rokok, khususnya pada remaja bisa kita turunkan lagi lewat germas ini,” pungkasnya.

(rb/ika/mus/JPR)

Source link