Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada sebanyak 87.300 warga  dari 22 desa di wilayah Gunung Agung harus meninggalkan kampungnya. Tapi baru sekitar 48 ribu lebih mengungsi. Sisanya masih bertahan di rumahnya.

Terkait hal itu, Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri menegaskan, pemerintah sudah melakukan berbagai upaya agar semua warga yang berada di zona merah mengungsi. Masyarakat diminta mengikuti rekomendasi PVMBG, yakni tidak ada aktivitas apa pun  di dalam area 8 kilometer dari puncak kawah Gunung Agung, dan diperluas sektoral sejauh 10 kilometer.

Selain masih banyak warga yang belum mengosongkan kampungnya, Mas Sumatri juga mengakui warga yang berada di pengungsian banyak pulang kampung pada siang hari. Hanya malamnya saja berada di pengungsian.

“Wajib mengungsi, termasuk ternaknya wajib diungsikan,” tegas  Mas Sumatri ditemui di Posko Bencana Erupsi Gunung Agung di Tanah Ampo, Kecamatan Manggis, Karangasem, Kamis (30/11) kemarin.

Ditemui terpisah, Deputi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB Bernadus Wisnu Widjaja juga mengakui masih banyak warga belum mengungsi dengan berbagai pertimbangan. Seperti masih ada ternak atau merasa kampunya masih aman.

Meski demikian, pihaknya optimistis warga akan menjauh dari gunung tertinggi di Bali itu. Hal itu tak terlepas dari aktivitas gunung yang seakan-akan terus meminta warga menjauh, membuat warga tak nyaman di rumah. Misalnya, erupsi berupa hujan abu vulkanik, bau belerang hingga lontaran batu. Bahkan gempa tremor overscale.

“Gunung Agung “sangat baik”. Selalu mengingatkan dengan bau belerang, tidak meletus. Sampai overscale tapi tidak meletus,”  terangnya. Berkaca dari gunung di daerah lain, tremor overscale biasanya gunung langsung meletus hebat. Namun Gunung Agung beberapa kali mengalami overscale tapi tidak meletus dasyat.  “Overscale biasanya langsung meletus, di sini gak. Saya kira gunung ini “ramah”, saya kira letusan besar. Tapi ramah, bolak-balik mengingatkan. Gempa bumi sampai 900 kali, tapi tidak meletus,” beber Wisnu.

Melihat beberapa kali peringatan tersebut, pihaknya berharap ada kesadaran warga yang masih bertahan di zona merah, memahami resiko bencana. Jangan sampai terjadi saat situasi genting baru teriak meminta evakuasi. “Perlu edukasi, prepare lebih penting. Jangan sampai sudah emergency baru turun, karena tim penyelamat juga akan kesulitan,” pungkasnya.

Mengacu data BNPB, 22 desa yang masuk zona rawan itu, yakni Desa Ababi, Pidpid, Nawakerti, Datah, Bebandem, Jungutan, Buana Giri, Tulamben, Dukuh, Kubu, Baturinggit, Ban, Sukadana, Menanga, Besakih, Pempatan, Selat, Peringsari, Muncan, Duda Utara, Amerta Bhuana, dan Sebudi.  Tidak semua warga di desa harus mengungsi. Ada yang setengah penduduknya harus mengungsi. Ada juga yang semua penduduk, tergantung jarak sebagaimana rekomendasi PVMBG.  

(bx/wan/dik/yes/JPR)

Source link