Namun, impiannya tersebut nyaris kandas. Itu karena orang tuanya memilih memasukkan dia ke Ponpes Tarbiyatul Ulum di Desa Pekuwon, Kecamatan Rengel untuk menempuh pendidikan SMP dan SMA. Di ponpes inilah, pria yang akrab disapa Amin ini nyaris tidak bersentuhan dengan teknologi dalam bentuk apa pun.

Tidak mempunyai bekal dan latar pendidikan di bidang IT tak membuat pria yang akrab disapa Amin ini gagal mewujudkan impiannya. Semakin jauh dari teknologi, justru rasa penasarannya semakin tinggi. Ketika pulang dari pondok, dia sering ke warung internet (warnet) dekat rumahnya.

Tujuannya untuk belajar tentang serba-serbi teknologi. Namun, karena lingkupnya terlalu luas, pemuda kelahiran Desa Sokosari, Kecamatan Soko ini fokus pada desain grafis. Desain grafis tersebut awalnya dia pelajari dari grup Facebook (FB). Untuk praktiknya, dia sering melihat Youtube para desainer vektor andal.

Dengan bekal laptop di rumah, Amin lantas mengotak-atik aplikasi corel draw. Sesekali dia belajar praktik dari senior desainer di Tuban. ‘’Jadi awalnya memang benar-benar belajar otodidak dari nol,’’ ucap pemuda yang beberapa kali jadi pemateri desain grafis ini.

Amin sadar betul belajar teknologi tidak hanya bisa dari teori, namun  harus penerapan atau praktik. Dan, untuk mengarahkannya butuh seseorang praktisi. Dia pun memutuskan pelajar pada dua prakti desain di Bojonegoro dan Tuban. Setiap akan belajar desain grafis, Amin harus menempuh perjalanan sekitar 45 kilometer (km). Entah untuk ke Tuban maupun Bojonegoro.

Setelah lulus pondok pada 2015, Amin benar-benar totalitas menerjuni  dunia digital. Setelah paham seluk-beluk vektor, pria yang juga guru ngaji ini mulai menjual karyanya. Awalnya, yang menjadi sasaran pasarnya teman kampusnya di salah satu perguruan tinggi swasta di Bojonegoro. ‘’Dulu tidak matok harga, dijual seikhlasnya ke teman-teman,’’ ujarnya.

Merasa sulit menjual karya-karyanya, Amin rutin mengunggah gambar digitalnya ke media sosial. Rezeki pria berkumis tipis ini ternyata tidak di dalam negeri. Ketika karyanya dipamerkan melalui medsos, sambutan para bule mancanegara luar biasa. Satu lukisan digital karyanya ditawar paling murah mulai 75 – 120 US Dollar atau kisaran Rp 1 juta – 1,6 juta. ‘’Rata-rata saya menerima pesanan tiga vektor per hari. Itu dari luar negeri saja,’’ ungkapnya.

Yang membeli karya vektor Amin adalah orang-orang dari negara maju di Australia, Eropa, dan Amerika. Sebagian kecil dari negara-negara di Asia. Di negara-negara maju, lukisan hasil desain grafis sangat dihargai mahal. Desain tersebut dibuat untuk suvenir, kado, hingga iklan sebuah produk.

Karena kliennya dari mancanegara, deadline yang dibuat pun sangat singkat. Untuk tiga gambar, harus selesai maksimal 24 jam. ‘’Saya percaya segala hal yang dilakukan dengan serius akan berbuah manis,’’ ucapnya bersyukur.

(bj/yud/ds/bet/JPR)

Source link