MAYANGAN – Mulai tahun 2018, sekolah digital akn diterapkan di 10 SMP Negeri di Kota Probolinggo. Namun, Disdikpora kota setempat memastikan, pihaknya tidak akan mengabaikan peran guru.

Budi Wahyu Rianto, Kabid Pendidikan Dasar di Disdikpora, Kota Probolinggo menyebut, tidak semua kegiatan di sekolah akan digitalkan. Terutama dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Peran guru tetap dibutuhkan.

“Intinya, penerapan sekolah digital tidak mengabaikan peran guru. Teknologi yang digunakan hanya menjadi alat. Sedangkan penyampaian materi tetap dilakukan guru,” jelasnya.

Karena itu menurutnya, Disdikpora tidak serta merta mengabaikan peran guru dengan penerapan sekolah digital ini. “Interaksi antara guru dan murid itu sangat penting. Jadi, meski kegiatan belajar mengajar bisa menggunakan video, penyampaian materi tetap dilakukan guru,” lanjutnya.

Bahkan, jika ada kegiatan belajar mengajar yang membutuhkan peralatan manual, seperti kertas dan pensil, itu tetap bisa dilakukan. “Artinya, tidak perlu dipaksakan untuk dikerjakan secara digital,” katanya.

Sebagai informasi, Kota Probolinggo mulai menyiapkan penerapan sekolah digital sejak tahun ini. Dimulai dengan penerapan absensi siswa, sebagian kegiatan pembelajaran dan UNBK 2017. 

Bahkan, anggaran Rp 7 Miliar lebih untuk pembelian komputer dan server bagi 10 SMP negeri di tahun ini, tidak hanya digunakan untuk pelaksanaan UNBK 2018. Namun, juga untuk mendukung penerapan sekolah digital.

Source link