MOJOKERTO – Tindakan terorisme yang kian nyata belakangan ini membuat kepolisian terus merapatkan barisan dengan Forkompimda Kabupaten Mojokerto.

Selain sebagai wujud bersatu menggalang kekuatan dalam memerangi kaum radilkal, setiap fungsi juga diajak berperan aktif melakukan pengamanan di lingkungan masing-masing. Terlebih, sel-sel atau benih teroris disinyalir telah terdeteksi masuk Mojokerto.

Kapolres Mojokerto, AKBP Leonardus Simarmata mengatakan,  saat ini semua pihak harus bergandengan tangan untuk memberantas sekaligus mempersempit ruang gerak teroris.

Yakni, dengan membangun sistem pengamanan dari masyarakat atau PAM swakarsa. ’’Saya kira itu akan lebih efektif dibanding sekadar penegakan hukum,’’ katanya seusai menggelar konsolidasi bersama tokoh agama dan forkompimda.

Sehingga, lanjut Leonardus, setelah sebelumnya mendeklarasikan dan berduka cita, terkait insiden biadab di Surabaya dan Sidoarjo, pihaknya harus berpikir keras dengan menggandeng semua elemen masyarakat.

Dengan harapan agar turut berperan aktif dalam menciptakan keamanan. Meliputi tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga organisasi kemasyarakatan (ormas). ’’Artinya, peran RT/RW untuk membentuk PAM swakarsa melalui jaga poskamling dan patroli rutin semakin diperketat dan harus ditingkatkan,’’ tuturnya.

PAM swakarsa ini untuk menciptakan sekaligus membentuk keamanan bersama. ’’Diperkuat dengan tamu wajib lapor 1×24 jam,’’ tambah Leonardus. Yakni, dengan melakukan pengecekan ke rumah kos, penginapan dan hotel.

Menurut kapolres, PAM swakarsa sudah diatur dalam pasal 30 UUD 1945. Bin Kamtibmas Swakarsa adalah mewujudkan daya cegah tangkal dalam penanganan terhadap sumber gangguan kamtibmas swakarsa.

Senin malam (14/5) gerakan melawan terorisme ini melibatkan tiga pilar. Di antaranya pemerintah, TNI, dan Polri. Petugas juga melakukan operasi besar-besaran dengan menyasar kos-kosan. Termasuk hotel dan objek vital lainnya.

Langkah ini sebagai upaya pendataan warga dan penghuni. Di sisi lain sebagai bentuk antisipasi gerakan radikalisme yang dimungkinkan secara massif berkembang di tengah masyarakat.Sebab, disinyalir sel-sel atau benih teroris juga teridentifikasi masuk di wilayah Mojokerto.

’’Pergerakan itu juga sudah dipantau petugas (Densus 88, Red). Makanya, di sini kami bersatu melawan teroris. Perbuatan teroris itu sudah tidak beradab. Tidak ada agama apa pun yang mengajarkan untuk menyakiti, membunuh, dan membuat teror,’’ pungkas Leonardus.

(mj/ori/ris/JPR)

Source link