BERSAMA: Aisyah Dinda Bulgis (berdiri dua dari kiri) berfoto bersama sejumlah rekannya di Jerman.
(Dok. Pribadi)

MUSLIM Indonesia umumnya menjalani puasa Ramadan selama sekitar 13 jam dalam sehari. Kondisi ini berbeda dengan di Jerman. Seperti dialami Aisyah Dinda Bulgis yang kini menempuh pendidikan di Jerman. Di sana, dia harus berpuasa selama sekitar 18 jam.

—————-

Tinggal di negeri orang, banyak perbedaan yang dirasakan oleh Aisyah Dinda Bulgis. Termasuk, ketika menjalankan ibadah puasa Ramadan. Perempuan 24 tahun ini awalnya mengaku kaget ketika harus berpuasa selama 18 jam dalam sehari.

Maklum, durasi waktu berpuasa itu jauh lebih lama dibanding di Indonesia. Di Indonesia, lama berpuasa selama sehari hanya sekitar 13 jam. Namun, di Jerman meski sama-sama berpuasa mulai imsak sampai Magrib, namun durasinya lebih lama.

Gadis yang kini kuliah di jurusan Internationale Betriebswirtschaftlehre Hochschule Fulda Jerman, itu mengatakan, di sana Subuh sekitar pukul 03.40 dan Magrib sekitar pukul 21.25. “Awalnya saya merasa tidak akan kuat berpuasa sampai Magrib. Karena waktu puasanya hampir 18 jam,” ujarnya.

Namun, berbekal tekat dan niat yang tulus, Dinda mampu menaklukkan lapar dan dahaga. Perempuan asal Desa Gebangan, Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo, ini sudah 3,5 tahun tinggal di Jerman. Selama itu pula, puasa Ramadan selalu dijalankannya dengan enjoy.

Meski berpuasa, Dinda mengaku tetap melaksanakan aktivitas kuliah seperti biasa mulai pukul 08.00. Dengan makin singkatnya jam malam itu, Dinda mengatakan, jam tidurnya juga berkurang. Maklum, di sana waktu salat Isya baru pukul 22.00. Dilanjutkan salat tarawih dan kadang masih tadarus Alquran. “Sedangkan waktu tidurnya antara pukul 24.00 atau pukul 01.00,” ujarnya.

Tidur sekitar pukul 01.00, Dinda harus kembali bangun pukul 03.00 untuk makan sahur dan salat Subuh. Demi mengobati rasa kantuknya, Dinda mengaku habis salat Subuh tidur lagi hingga pukul 05.00. “Saya harus bangun sekitar pukul 06.00. Karena harus siap berangkat ke kampus dan harus ambil bus pukul 07.20. Jadi, intinya kurang tidur dan bikin di kelas kadang ketiduran,” jelasnya.

Dinda mengatakan, tinggal di Jerman beda jauh dengan di Indonesia. Di Indonesia, setiap waktu salat banyak orang mengumandangkan azan. Di tempat tinggal Dinda di Jerman, tidak ada. Karenanya, Dinda mengaku sering mendatangi masjid terdekat untuk meminta jadwal salat. “Biasanya saya minta jadwal ke Masjid Turki atau pasang aplikasi jadwal salat yang bisa azan juga,” ujarnya.

Muslimah kelahiran Situbondo, 10 Januari 1994, ini mengaku pernah berbuka puasa di dua masjid itu. Katanya, dua masjid ini ada perbedaan. Di Masjid Turki biasanya berbuka puasa dulu, termasuk makan besar, baru salat Magrib. Sedangkan, di Masjid Arab, biasanya minum air putih sama kurma dulu, kemudian salat Magrib sebelum makan besar.

Di Masjid Turki jarang tersedia menu nasi. Biasanya makanan yang disajikan berupa lauk pauk dan roti. Juga sering disajikan minuman yoghurt dari susu kambing. “Menurut saya tidak enak, rasanya asem dan bau kambing. Kalau kuenya banyak dan yang paling aku suka baklava. Di Masjid Arab, kami biasanya dikasih nasi dan lauk pauk. Paling sering daging domba,” ujarnya.

Demi mengobati rasa kangen dengan kampung halaman dan menjalin silaturahmi, menurut Dinda, orang-orang Indonesia yang kebetulan satu kota mengadakan buka puasa bersama. Dalam kegiatan ini mereka memasak masakan Indonesia. Seperti bakso, nasi kuning, dawet, rawon, lapis legit, dan soda gembira.

Dinda mengaku bersyukur karena di kampusnya juga ada sekitar 400 muslim dari berbagai negara. Seperti dari Turki, Yaman, Syiria, Palestina, Iran, Irak, dan Mesir. Minggu (27/5) lalu, mereka mengadakan buka puasa bersama di kantin kampus dan salat berjamaah di halaman kampus. Rabu (23/5) lalu, juga ada kegiatan malam internasional. “Kebetulan Indonesia jadi salah satu negara yang dipercaya memperkenalkan masakan khas Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, sejauh ini masih ada sejumlah temannya asal Indonesia belum kuat berpuasa selama sekitar 18 jam. Sehingga, tidak puasa. Dinda mengaku, punya tip khusus agar kuat berpuasa selama 18 jam. Salah satunya makan sahur pakai oatmeal dicampur yoghurt, pisang, kurma, dan madu. “Plus banyakin minum air putih,” ujarnya. Oatmeal merupakan jenis gandum berserat tinggi yang membantu mengurangi tingkat kolesterol darah.

(br/fun/hil/fun/JPR)

Source link