Bahkan, semakin lama cara yang dilakukan oleh para koruptor semakin hari semakin licin bak belut. Pihak KPK pun semakin kesulitan menangkap para tikus berdasi itu.

Seniman Bali ternyata memiliki pandangan yang berbeda terkait maraknya kasus korupsi yang terjadi di Indonesia.

Berdasar penelusuran Jawa Pos Radar Bali, di Bali sendiri, kasus korupsi yang berkaitan dengan uang merupakan hal baru. Nyaris tidak ada petuah yang diucapkan leluhur untuk menjauhi korupsi.

Hal tersebut disampaikan pegiat seni teater Buleleng, Putu Satria Kusuma saat ditemui di rumahnya di Jalan Gempol, Singaraja.

Katanya, cerita-cerita tradisional Bali yang dia baca, tidak ada cerita khusus yang menyinggung korupsi terkait uang.

“Walaupun dulu memang ada masalah. Tapi, dulu uang tidak menjadi masalah yang besar. Mungkin uang dulu tidak terlalu berperan.

Karena segala sesuatu sudah dipenuhi oleh para pejabat itu dengan hasil bumi. Tiap-tiap pejabat dulu kan dapat bagiannya,” terangnya.

Nah, ternyata uang sekarang sangat berarti untuk membeli segala hal. “Kalau dulu, kekayaan orang kan tidak boleh dari raja. Jadi, ada takarannya.

Sedangkan sekarang tidak ada takarannya. Itu saya duga, mengapa para seniman dahulu tidak ekspresif membahas soal korupsi uang,” katanya.

Bila dibedah lebih dalam, karya para seniman dulu, seperti Cupak dan Gerantang misalnya, isinya adalah soal kelicikan dan penipuan.

Begitu juga di Buleleng yang memiliki kisah Jaya Prana dan Layon Sari. Isinya juga terkait soal memanipulasi fakta dan berakhir pada kehancuran tatanan kerajaan waktu itu.

Karena itu, Satria sepakat dengan WS Rendra, bahwa seniman adalah hati nurani bangsanya. “Sekarang banyak terjadi korupsi waktu, uang, jabatan ataupun korupsi ayat dengan

menggunakan isu sara untuk mencari jabatan. Bila sudah biasa korupsi, maka akan ada kecenderungan melakukan korupsi terus menerus. Seniman harus berani menyuarakan itu,” tuturnya

Sebagai seorang pegiat seni teater, Satria sendiri pun menyuarakan hatinya atas banyaknya korupsi yang terjadi dengan membuat monolog berjudul Tikus.

Monolog Tikus bercerita tentang seorang ayah yang sendirian di rumah karena anaknya pergi bekerja di luar. 

Nah, di rumah tersebut, ayahnya selalu terganggu oleh tikus karena sering mengerogoti rumahnya. Suatu ketika, si ayah itu ternyata juga mendengar anaknya melakukan korupsi di satu tempat.

Ayah itu lalu meminta anaknya pulang ke rumah. Setelah anaknya pulang ke rumah, bapaknya tersebut sedang memukuli tikus di rumah.

Ketika tikus dipukuli, ternyata yang dipukuli adalah anaknya karena bapak tersebut berhalusiansi, anaknya dikira tikus.

“Pesan yang mau saya sampaikan, korupsi adalah sebuah masalah dan terdampak bagi rakyat kecil. Tidak ada orang tua yang mau anaknya korupsi.

Lebih baik menyenangkan orangtuanya dengan nama baik dibanding dengan uang yang banyak tapi dengan cara korupsi,” jelasnya.

Persoalan korupsi juga pernah di ulas apik oleh kartunis Buleleng, Putu Dian Ujiana. Melalui kelihaiannya dalam dunia gambar, dia menuangkan kritik sosial dengan gambar yang lucu dan bermakna.

Termasuk juga soal korupsi. “Kartun soal korupsi itu pertama kali saya buat tahun 2011. Saat itu, mulai banyak orang berbicara korupsi,” ujarnya.

Karya pertamanya tersebut bercerita tentang orang-orang yang sedang pincang. Ia menggambarkan, orang yang berada paling atas sebagai seorang koruptor dengan menginjak rakyat kecil yang ada di bawah.

Setelah koruptor tersebut di atas, dia mengambil secara rakus tanpa peduli dengan orang yang di bawah.

“Seorang koruptor itu tidak memandang rakyat kecil. Ketika berada di atas, orang itu lupa dengan rakyatnya. Padahal, apa yang dia dapatkan tersebut adalah untuk rakyat,” ujar pria kelahiran Singaraja 29 tahun silam ini.

Tu Dian panggilan akrabnya, hingga saat ini sudah membuat 15 kartun tentang korupsi. Baginya, media kartun dianggap paling mudah dicerna oleh berbagai kalangan, baik dari anak-anak maupun orang dewasa.

“Menurut saya lebih gampang diterima masyarakat. Ada pesan serius dengan gambar yang lucu,” ungkapnya.

Terlebih soal korupsi di Indonesia. Pria tamatan D-1 di bidang perhotelan ini melihat korupsi kini seolah menjadi hal yang wajar.

Untuk itu, dia berharap Negara memberikan hukuman yang jauh lebih tegas dan berat dari sekarang ini, sehingga nantinya dapat memberikan efek jera.

Tak hanya Tu Dian, Bondres Buleleng yang kini sedang naik Daun, Rare Kual juga kerap pentas dengan mengambil tema korupsi.

Menariknya, saat ditemui Jawa Pos Radar Bali di Yayasan Manik Bumi, Jalan Seroja, Singaraja kemarin, salah satu pemain Rare Kual, 

Ngurah Indra ini memandang bahwa korupsi tersebut sebagai sebuah rejeki bagi mereka yang tak mau bekerja keras.

“Iya. Orang korupsi itu karena bingung membawa uangnya (uang rakyat, red) kemana. Nah, karena jabatannya dan kemudian ada kesempatan, dia mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri,” ujar Wah Indra panggilan akrabnya.

Sekadar diketahui, Rare Kual merupakan grup lawak asal Buleleng yang beranggotakan Wah Indra berperan sebagai Ngurah Joni, Slamet dikenal Bojes, Arpin sebagai Ayuk Sintya, dan Dedek berperan sebagai Sloli.

Rare Kual kerap menggunakan tema korupsi dalam lawakannya. Biasanya, tema korupsi dipentaskan oleh Rare Kual saat di undang dalam acara pelantikan kepala desa,

pelantikan bupati, acara hari anti korupsi dan juga di acara yang diselenggarakan oleh pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Materi lawakannya, selain dari membaca, juga kadang mencari meme-meme lucu atas kasus korupsi yang sedang hits, kemudian dikembangkan dengan menggunakan gaya dan bahasa ala Buleleng.

“Kami juga gunakan lagu bali tentang korupsi seperti upah hidup atau bahkan gunakan lagu anak-anak yang kami plesetkan,” terangnya.

Wah Indra mencontohkannya. “Tek kotek kotek kotek. Anak ayam turun satu milliar. Mati satu tinggal sisanya”. Lalu dijawab oleh Arpin yang berperan sebagai Ayuk Sintya dalam lawakan. 

“Sisa berapa?”. Artinya, kata Wah Indra bahwa segala sesuatu itu harus jelas, apalagi menyangkut uang.

Membawakan lawakan dengan tema korupsi ternyata tak mudah.

Terlebih tampil di acara para pejabat. Misalnya, saat bicara soal para pejabat agar tidak korupsi dan sebagainya, para pejabat ini malah pura-pura sibuk memainkan handphone sambil foto-foto.

“Malah para pejabat ini yang nggak perhatikan. Ciri-ciri ini. Tapi, kami siasati dengan “joke kasar” ala Buleleng. Setelah tertarik perhatiannya, baru kami berikan petuah soal korupsi,” herannya.

Baginya, persoalan korupsi ini ada karena adanya kesempatan. “Segala sesuatu yang menyangkut anggaran atau uang rakyat ini,

para pemimpin ini atau siapapun itu, lebih baik terbuka saja kepada publik.  Supaya tidak ada celah untuk melakukan korupsi,” tuturnya.

Di Bali, persoalan korupsi memang tak seheboh di Jakarta. Kapolda Bali Irjen Dr Petrus Reinhard Golose sebelumnya pernah mengungkapkan,

berdasar data Direktorat Reskrimsus Polda Bali dan jajarannya selama 4 tahun, dari tahun 2014 sampai dengan bulan Agustus 2017, program pemberantasan tindak pidana korupsi dinilai cukup berhasil. 

Hal ini dapat dilihat dari pengungkapan kasus yang terjadi sebanyak 96 kasus dari jumlah target setiap tahun sebanyak 13 kasus.

Sehingga, total target yang harus dicapai selama 4 tahun terakhir sebanyak 52 kasus, yang mana dari segi target capaian kinerja sesuai dengan penyelesaian penyidikan tindak pidana korupsi sebanyak 87 kasus.

Jika dilihat dari target selama 4 tahun terakhir, maka sudah terjadi over prestasi sebanyak 35 kasus. 

Pengungkapan kasus tindak pidana korupsi di wilayah hukum Polda Bali disebutnya banyak diungkap dari Operasi Saber Pungli.

Hingga saat ini, di wilayah Bali tidak ada kasus yang diambil alih KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). 

“Kita perang melawan korupsi bersama-sama dan harus menang. Karena tidak ada satu Institusi yang bisa bekerja sendiri di Republik Indonesia tercinta ini.

Sehingga kita bisa mewujudkan sila kelima kita yaitu Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” tegas Jenderal lulusan Akpol 1988 ini. 

(rb/ara/mus/mus/JPR)

Source link