GINANJAR ELYAS SAPUTRA/RADAR SURABAYA

Salah satu teror bom pada Minggu (13/5) salah satunya berada di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel yang berdekatan dengan SD Katolik Santa Clara. Sebagai bentuk kepedulian dan keinginan untuk memulihkan trauma pasca dampak bom, Kepala SD Muhammadiyah (SDDM) 6 Gadung, Munahar mengajak siswanya bermain bersama di SD Katolik Santa Clara sebagai wujud silaturahmi agar memperkuat hubungan yang terjalin pasca terjadinya teror bom di Surabaya. 

 “Peristiwa teror bom yang menurut kami menyayat kebersamaan. Kami ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa, karena sekolah berada satu komplek dengan gereja yang terkena ledakan,” ujar Munahar saat berkunjung di SD Santa Clara, Kamis (24/5).

Melihat fenomena ini SDM 6 Gadung dan SD Katolik Santa Clara memilih menggelar acara bermain bersama untuk menghilangkan rasa trauma anak. Tujuannya agar anak-anak bisa bermain bersama dan juga saling mempererat hubungan antar umat beragama. 

Para siswa SDM 6 dengan memakai seragam lengkap dengan hijabnya diajak membaur dengan siswa SD Katolik Santa Clara. Tak hanya itu saja, masing-masing sekolah juga mengenalkan pengurus sekolahnya. Hingga mengenalkan sosok Suster yang menjadi kepala SD Katolik Santa Clara yang masih awam bagi anak SDM 6.

Para siswa nampak bermain bersama permainan tradisional, seperti permainan egrang dan lomba terompah. Keseruan terlihat saat mereka bermain dan berlomba. Kegembiraan dan keakraban nampak di wajah para siswa dan siwi ini.

Davina Auriel Luthfiah, 11, siswa kelas 5 SDM 6 Gadung mengungkapkan baru pertama kali mengunjungi di sekolah katolik. “Anaknya sama serunya, sama asyiknya. Kata Suster, kami semua sama meskipun berbeda agama. Jadi harus saling menghargai,” ungkapnya.

 Sementara siswa SD Katolik Santa Clara, Vinsensius Ferrel Agung, 12, mengungkapkan bermain bersama anak sekolah lain bukan hal pertama baginya. Meskipun banyak isu perpecahan yang menimbulkan kebencian, menurutnya tidak terbukti. Malah membuat dirinya semakin memiliki banyak teman.

 “Saya juga pernah main bola bersama anak-anak muslim, kami sama dan saling menghargai juga, di rumah juga banyak teman yang muslim,” tuturnya.

 Selain itu, kegiatan bersama ini diharapkan bisa memberikan edukasi pada anak-anak Islam yang penuh kedamaian. Sr Bernadetha Wiwik Tiyani, Kepala SD Katolik Santa Clara mengungkapkan isu keberagaman memang menjadi konsen saat ini. Dengan adanya kegiatan ini, maka siswa antar agama bisa saling berempati.

“Anak-anak sekolah kami pastinya penasaran dengan siswa muslim, karena memang jarang ada kegiatan yang melibatkan siswa sekolah lain khususnya yang muslim di sekolah,”ujarnya. (*/rud) 

(sb/gin/jek/JPR)