Mengawali 2018, Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Hasanuddin, Pare melakukan lawatan ke Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) untuk merintis kerja sama. Ini menjadi kunjungan kampus swasta pertama di Kediri ke UKM pada tahun ini.

“Kerja sama dengan kampus-kampus luar negeri sekarang harus dilakukan,” ujar Ketua STAI Hasanuddin Drs H Harun Kusaijin MFil.I kepada wartawan koran ini, Jumat (9/2). Saat ditemui, belum genap seminggu ia datang dari Malaysia bersama rombongan kampus yang berkedudukan di Pare tersebut.

Bersebelas dengan yang lain, Harun berangkat ke Negeri Jiran pada 27 Januari lalu. Mereka terdiri dari tujuh dosen, seorang dewan penyantun, dua mahasiswa, dan seorang pengurus ikatan alumni STAI Hasanuddin. Alumnus itulah yang memfasilitasi lawatan tersebut. Yakni, H Muhammad Mundir SH SSy MH LLm. “Pak Mundir, alumni kami, kebetulan sedang mengambil progam doktor (PhD) di UKM,” terang Harun. Mundir juga menjadi muassis di Pesantren Tahfidzul Quran, Malaysia.  

UKM adalah perguruan tinggi yang berdiri sejak 18 Mei 1970. Kampusnya berkedudukan di dua kota. Yaitu, Bangi, Selangor dan Kuala Lumpur. Banyak fakultas yang dimiliki. Namun, yang menjadi tujuan lawatan untuk menjalin kerja sama adalah fakultas pendidikan di Bangi.

Hal itu sesuai dengan salah satu jurusan yang dimiliki oleh STAI Hasanuddin, yakni jurusan tarbiyah. Di dalamnya ada tiga program studi (prodi). Yaitu, pendidikan agama Islam (PAI), tadris bahasa Inggris (TBI), dan pendidikan guru madrasah ibtidaiyah (PGMI). “UKM merupakan salah satu universitas bonafid di Malaysia,” jelas Pembantu Ketua III STAI Hasanuddin Umar Faizi MPdI yang menjadi ketua rombongan dalam lawatan.

Selain itu, banyak yang menjadikan UKM sebagai jujukan untuk mengambil program magister maupun doktoral. Termasuk, sarjana-sarjana dari Indonesia. Karena itulah STAI Hasanuddin ingin menjalin kerja sama. “Untuk mengembangkan dosen maupun mahasiswa,” lanjut Umar.

Tiba di sana, rombongan STAI Hasanuddin diterima oleh Kepala Biro Kerja Sama Antarbangsa UKM Dr Aida Nur Hamid. Dari bandara, mereka terlebih dulu dijemput untuk diajak sarapan pagi dengan menu khas Malaysia: nasi lemak.

Setelah itu, dilanjutkan penjajakan pembicaraan kerja sama dengan sejumlah pimpinan Fakultas Pendidikan UKM. Mereka dipimpin dekannya, Prof Dr Datok Nurazah Moh. Nurdin. Ada sejumlah hal yang hendak dikerjasamakan. Yaitu, akademik, peningkatan mutu SDM, tukar menukar dosen dan mahasiswa, serta publikasi karya ilmiah.

Untuk hal itu, secara khusus, Umar meminta Prof Dr Nik Moh. Rohimi untuk berkenan menjadi reviewer jurnal ilmiah yang diterbitkan STAI Hasanuddin. “Kami juga memaparkan tentang konsep pendidikan Islam Nusantara yang dikembangkan oleh STAI Hasanuddin,” ungkap Umar.

Konsep ini mengadopsi warisan pendidikan ala pesantren yang dipadukan dengan perkembangan modern. Di sini, STAI Hasanuddin memiliki kekhasan. Selain banyak pesantren di sekitar, kampusnya yang terletak di Jombangan, Tertek, Pare juga dekat dengan Kampung Bahasa Inggris. Paparan disampaikan oleh dosen STAI Hasanuddin Drs H Nur Akhlis MPd yang juga pengelola salah satu lembaga pendidikan bahasa Inggris di kampung tersebut. 

Atas hal itulah, UKM lantas sepakat untuk menjalin kerja sama dengan STAI Hasanuddin. Di antaranya berupa pertukaran dosen dan mahasiswa, pertukaran artikel antarjurnal kampus untuk dosen maupun mahasiswa, serta saling bantu untuk praktik pendidikan lapangan (PPL). “Jadi, mahasiswa STAI Hasanuddin bisa PPL di Malaysia dan mahasiswa UKM bisa PPL di Indonesia,” beber Umar.

Bukan hanya itu. Ada program double degree yang dirintis untuk lima tahun mendatang. Kelak, mahasiswa STAI Hasanuddin bisa lulus dengan menyandang dua gelar kesarjanaan. Pertama, yang dikeluarkan oleh kampusnya sendiri. Kedua, yang dikeluarkan oleh UKM. Begitu pula sebaliknya. Ini bisa diperoleh jika yang bersangkutan melakukan penelitian di UKM. “Atau, sebaliknya,” tandas Umar.

Untuk diketahui, STAI Hasanuddin memiliki sejumlah jurusan dan prodi. Kecuali tarbiyah, jurusan lain adalah syariah, dakwah, dan ushuluddin. Untuk syariah, ada prodi ekonomi syariah (ESy) dan hukum keluarga Islam (HKI). Adapun untuk jurusan dakwah ada komunikasi penyiaran Islam (KPI). Sedangkan ushuluddin ada ilmu Alquran dan tafsir (IAT).

Ke depan, jurusan-jurusan itu akan dikembangkan pula dengan menggandeng kampus-kampus luar negeri. Semua semata demi meningkatkan kualitas pendidikan di kampus tersebut. “Kerja sama dengan luar negeri sudah tidak bisa kita elakkan,” pungkas Ketua STAI Hasanuddin Harun Kusaijin.

(rk/die/die/JPR)

Source link