Wartawan Radar Sidoarjo

NAMA pesantren itu adalah Pondok Pesantren Al Hamdaniyah, di Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran.

Radar Sidoarjo pun menelusuri ke Desa Siwalanpanji dan ditemui oleh KH Muhammad Aly, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny.

“Pesantren ini (Al Khoziny, Red) masih ada kaitannya dengan Al Hamdaniyah karena kami masih keturunan dari pondok sana,” katanya, Kamis (24/5).

Pria yang akrab disapa Gus Aly ini mengaku kalau adanya pondok pesantren di Sidoarjo ini jauh lebih dulu ada sebelum pemerintahan Kabupaten Sidoarjo lahir. Ia menuturkan pesantren ini didirikan oleh KH Hamdany yang berasal dari Pasuruan untuk KH Ya’qub pada tahun 1787.

Sejumlah ulama besar saat itu lahir dari pesantren ini. Seperti misalnya KH Hasyim Asy’ari, KH Asy’Ad Samsul Arifin, KH Ridwan Abdullah, KH Alwi Abdul Aziz, KH Wahid Hasyim, dan lain-lain.

“Saat itu pesantren Al Hamdaniyah santrinya sudah mencapai 1.800. Tidak hanya dari berbagai daerah di Indonesia, tapi juga dari beberapa negara, seperti Arab dan Filipina,” jelasnya.

Gus Aly mengatakan KH Hasyim Asy’ari tidak hanya pernah menjadi santri di pesantren Al Hamdaniyah. Bahkan KH Hasyim Asy’ari juga pernah diangkat menjadi menantu oleh Kiai Ya’qub, pengasuh pesantren waktu itu. “Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Karena Nyai Khodijah (istri KH Hasyim Asy’ari) wafat lebih dahulu di Makkah, saat tengah mengandung, dan jenazah Nyai Khodijah dimakamkan di Makkah,” ungkapnya.

Kiai yang memiliki wajah ganteng ini mengaku saat mengunjungi salah satu pondok pesantren sepuh di Tuban, ia kemudian dipeluk oleh kiai pengasuh pondok tersebut. “Beliau menceritakan kalau cikal bakal lahirnya NU berasal dari Pondok Siwalanpanji (sebutan Pondok Pesantren Al Hamdaniyah).

Menurutnya, saat itu kiai Ya’qub melihat sosok KH Hasyim Asy’ari ini selain agamis juga nasionalis. Maka KH Ya’qub berpesan kepada KH Hasyim tolong besarkan NU tapi jangan munculkan namanya (KH Ya’qub, Red).

“Jadi idenya dari Kiai Ya’qub yang juga dibahas dengan sejumlah ulama besar lainnya,” jelasnya.

Bahkan sejarah berdirinya Stasiun Buduran ini menurut Gus Aly memiliki cerita unik tersendiri. Ia mengungkapkan stasiun tersebut dibangun oleh Belanda. Saat itu di Sidoarjo hanya ada satu stasiun di kota. Setiap santri yang berangkat nyantri ke sini dengan menggunakan kereta dari stasiun Surabaya. Uniknya, setiap melintas di depan Desa Siwalanpanji, kereta mogok. Setelah santri turun kereta tersebut bisa jalan lagi.

“Hal tersebut diakui oleh Pak Said kepala KAI era Kiai Khozin yang kini menjadi kiai di Malang dan memiliki pondok pesantren,” jelasnya. (*/jee/bersambung)

(sb/mus/rek/JPR)