Selain Djaduk, juga tampak melayat puluhan seniman Jogja seperti budayawan Emha Ainun Najib, pelawak Marwoto, pantomimer Jemek Supardi, serta musisi dan seniman lainnya. Tapi tabuhan kendang milik Sujud yang biasanya disambut bahagia pendengarnya, berubah jadi isak tangis istri almarhum, Mamik Sumaryati, dan kerabat lainnya.

Tidak hanya mengiringi pelepasan jenazah Sujud Kendang Tunggal itu saja, oleh keluarga Djaduk juga diberi amanah untuk merawat dua kendang serta topi yang selama ini dipakai Sujud. Salah satu kendang itu diketahui sudah digunakan Sujud sejak awal menjalani profesi sebagai pemungut pajak rumah tangga (PPRT) pada akhir 1960-an.

“Kaget ketika keluarga meminta saya untuk merawat kendang pusaka, karena dari alat inilah nama Pak Sujud dikenal tidak hanya di Jogja dan Indonesia, tapi juga dunia,” ujarnya.

Dikenalnya Sujud di seluruh dunia tidak lepas dari peran komposer asal Selandia Baru Jack Body yang membuat album kompilasi Street Music of Java pada 1976. Adik Butet Kartaredjasa itu mengaku belum tahu akan diapakan kendang tersebut. “Tapi ini amanah keluarga, maka akan saya pelihara sebaik-baiknya,” ujarnya.

Djaduk yang bersama seniman Jogja pada 2013 lalu melakukan aksi penggalangan dana untuk Sujud, mengenang orang yang dijulukinya Pengamen Agung itu sebagai sosok yang konsisten dalam profesinya mengamen. Hingga menyebut profesinya sebagai PPRT.

“Kadang kita malu disebut ngamen. Padahal kita semua juga ngamen, tapi Pak Sujud konsisten dan menjadi ikon musisi jalanan,” sebutnya.
Sujud sebagai musisi jalanan yang keluar masuk kampung, bahkan membuat seorang Emha Ainun Najib membandingkannya dengan sosok Markesot yang melegenda di Surabaya. “Orang seperti Sujud ini diberi keistimewaan oleh Tuhan, punya karakteristik spesifik yang menonjol, yaitu caranya nyanyi dan main kendang,” tuturnya.

Pria yang akrab disapa Cak Nun ini menambahkan, beberapa kali pernah meminta Sujud untuk pentas bersama dirinya. Dari pertemuan itulah ia menilai Sujud itu sangat Jawa.

Menurut Cak Nun, meski nakal saat bernyanyi, Sujud dinilainya orang yang santun, dan tutur katanya halus. “Jogja tanpa Sujud seperti ada yang kurang, seperti ada lobang di hati,” ujar Cak Nun.

Karena itulah Cak Nun mendukung supaya warisan dari Sujud, baik berupa lagu-lagunya maupun kendang, bisa disimpan dalam museum khusus. Dari benda-benda itu generasi berikutnya bisa belajar dari Sujud.

Tapi Cak Nun buru-buru menambahkan penyimpanan benda peninggalan Sujud bukan berarti syirik. “Yo seperti kalau simbahmu meninggal, pit e ojo didol,” ungkapnya.

Harapan itu sejalan dengan keinginan Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) saat melayat di rumah duka. Menurut HP, beberapa peninggalan karya Sujud bisa didokumentasikan dan menjadi pembelajaran pada anak cucu.

Hal itu juga sejalan dengan perjalanan Sujud yang mengiringi tumbuh kembang anak-anak di Kota Jogja. “Anak-anak di Jogja hampir pasti kenal Sujud, karena lagunya yang lucu dan menghibur, Kota Jogja kehilangan salah satu ikonnya,” ujar HP. 

(rj/pra/ong/JPR)

Source link