(reza cecep arjiansyah/radar jember)

Penyalahgunaan obat keras berbahaya, semakin hari semakin banyak saja. Bahkan, tak sedikit mereka yang mengonsumsi itu masih di bawah umur. Padahal, mengonsumsinya dengan dosis yang berlebih bisa mengakibatkan kematian.

Salah satu jenis obat yang biasa disalahgunakan adalah dextrometorfan. Mereka umumnya menyebut dextro. Sebenarnya, obat ini memiliki manfaat untuk menyembuhkan batuk. Namun jika dikonsumsi berlebihan, bisa mengakibatkan hiperaktif dan halusinasi (psikosis). Semakin besar mengonsumsinya, bisa sampai mengalami depresi pernapasan.

Banyak yang menyalah artikan halusinasi itu fly, seperti layaknya sedang mengkonsumsi narkoba. Padahal jauh berbeda. Sebab, halusinasi setelah mengonsumsi dextro berlebihan, tak lain karena efek samping.

Salah satu sumber Jawa Pos Radar Jember – sebut saja Rico mengatakan, ngefly pakai dextro ini punya nama populer di kalangan penggunanya, yakni mbledos. Seperti Bahasa Jawa, mbledos berarti pecah. Menyebut mbledos, karena setelah mengonsumsi dextro yang berlebihan, kepalanya terasa pusing seperti pecah. 

Kata Rico, ada sensasi yang luar biasa saat dia merasakan mbledos. Namun, semua tergantung pada kondisi psikologis masing-masing. Seperti dia yang saat itu sedang sangat senang. Maka saat mbledos, dia pun akan terus tertawa menikmati kesenangan hatinya. “Tapi kalau sedang susah, kepikiran sedih terus,” katanya.

Saat mbledos, dia juga merasakan sensasi mabuk. Seperti mabuk minuman keras, dia pun pernah sampai teler. Namun bedanya tidak muntah. Tetapi di tenggorokannya terasa panas dan inginnya minum dingin atau yang segar lainnya.

Setiap orang memiliki batasan tersendiri. Seperti saat awal dia mengonsumsi dextro. Meminum 10 butir pil kuning, sudah mulai terasa mbledos. Namun sekarang, meminum segitu sudah tidak terasa apa-apa. “Eman kalau tidak sampai mbledos. Cuma dapat panas di tenggorokan,” tuturnya.

Mendapatkan dextro, diakuinya gampang tapi juga susah. Bagi dia sangat mudah memperolehnya. Karena dia, sudah tahu jaringan pengedarnya. Namun bagi pemula, harus ikut orang lama sepertinya. “Terkadang kehabisan stok. Apalagi kalau ada kabar operasian. Mereka (pengecer) memilih libur tidak jualan,” akunya.

Meski pemasok sudah libur, namun mereka masih punya cara untuk tetap mbledos. Memang bukan dextro bentuk pil warna kuning yang mereka konsumsi. Melainkan obat batuk cair sachet merek tertentu yang mereka konsumsi. “Kita lihat komposisinya. Jika kandungan dextro-nya, kita beli,” katanya. 

Membelinya tidak cukup satu sachet. Bahkan dia, belum merasa mbledos jika belum menghabiskan satu pak yang berisi 30 sachet obat batuk cair yang dimaksud. Meminumnya, semua bungkus dia gunting yang kemudian dimasukkan dalam gelas. “Efeknya tidak lama kok. Awalnya pusing biasa. Semakin pusing, setelah satu jam,” akunya.

Semisal tidak ada dextro, mereka juga berburu Trihexyphenidil. Mereka menyebut obat itu trex. Namun secara medis, jenis obat itu sebenarnya digunakan untuk mengatasi gangguan gerakan yang tidak normal. Biasanya, orang yang demikian penderita Parkinson. 

Kata Rico, semisal boleh jujur, dia lebih suka mengonsumsi trex. Sebab obat ini dinilainya lebih mujarab membuatnya mbledos. Meski katanya, semua cocok-cocokan. “Ada yang tidak cocok. Kalau saya, semisal ada mending pilih trex,” ujarnya.

Meski demikian, obat ini cukup sulit didapat dan harganya lumayan lebih mahal. Meski sebenarnya, masih lebih murah jika dibandingkan dengan harus menggantinya dengan obat batuk cair sachet.

Namun yang pasti diterima pengguna obat keras berbahaya itu, penyakit gatal-gatal yang sulit disembuhkan. Rico, pernah mengalaminya. “Gatal-gatalnya diantara jari dan bagian tubuh dalam,” akunya. 

(jr/rul/ras/das/JPR)

Source link