Botol dan cup susu itu tertata rapi di stan display produk lokal yang ada di Kantor Desa Rowotengah, Sumberbaru. Seperti produk susu pabrikan. Namun nyatanya, susu kemasan itu hanyalah hasil buatan warga desa setempat. Dibuat dengan semangat home industry.

Susu bukan sekadar susu. Pembuatnya memberi label Corn Milk. Mereka juga menyebut susu jagung. Bukan sekadar nama, karena susu yang mereka jual, memang terbuat dari jagung, seperti susu kedelai. Namun, susu yang satu ini diklaim lebih menyehatkan.

Pembuat susu jagung adalah Sulistiyowati, warga Desa Rowotengah, yang juga aktivis desa setempat. Dirinya sengaja membuat susu jagung supaya pengidap diabetes tetap aman mengkonsumsi susu manis. Dia mengklaim, susu buatannya tak membutuhkan banyak gula pasir.

Membuatnya juga sangat sederhana. Setiap satu liter susu jagung membutuhkan 2 ons jagung manis. Memilih jagung manis supaya tidak membutuhkan banyak gula. Namun, sebelum memprosesnya, jagung terlebih dahulu disisir. Setelah itu, di kukus sampai matang.

Jagung yang sudah matang digiling dengan blender seadanya. Supaya proses penggilingan lancar, setengah liter air mineral dicampur ke dalam blender. “Kami giling sampai keluar santan dari jagung manisnya,” terang Sulistiyowati.

Setelah santan jagung berhasil disaring, beberapa bahan tambahan, seperti garam, panili, kayu manis, gula, dan susu sapi segar, dimasukkan menjadi satu dalam panci aluminium. Selanjutnya, direbus di atas kompor dengan api sedang sampai airnya mendidih. Setelah susu jagung matang, dia cepat-cepat menutupnya supaya tidak tercemar bakteri jahat.

Soal kemasan, Sulistiyowati sadar betul. Butuh kreatifitas supaya konsumen yakin bahwa susu jagung olahannya memang layak dikonsumsi. Dia pun tak mau main-main. Kemasan cup dan botol pun dibuat serius seperti minuman pabrikan.

Meski benar-benar meyakinkan seperti minuman berkelas, namun soal harga tetap ramah di kantong warga desa. Segelas susu jagung hanya dibanderol Rp 5 ribu. Susu sehat itu banyak digemari warga setempat karena disajikan higienis. Terlebih, cocok untuk penderita diabetes.

Memasarkannya pun cukup mudah. Jika beruntung, dalam sehari, 100 cup susu yang dibuatnya pun laris manis. Terlebih, jika ada kegiatan desa seperti posyandu di masing-masing kampung. “Jika hari-hari biasa, saya jual di rumah,” akunya.

Beruntung, pihak Desa Rowotengah Sumberbaru ikut mendukung produk lokal desa yang dikembangkan Sulistiyowati. Setiap kali ada tamu desa, susu jagung jadi sajian minuman wajibnya. “Kami bukan hanya membantu membelinya, tapi juga ikut memasarkan,” tutur Kades Rowotengah, Didik Suhadi.

Rupanya, semua bahan yang digunakan mayoritas produk lokal desa setempat, seperti jagung manis dan susu sapi murni. “Multiplier effect-nya sangat jelas. Dari desa untuk masyarakat desa,” ujarnya. Terlebih, semangatnya juga untuk pemberdayaan masyarakat. 

(jr/rul/hdi/das/JPR)

Source link