Bupati Amin menegaskan, Badan Amil Zakat Nasional (Basnaz) merupakan amil bentukan pemerintah yang sah untuk mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Baznas di Bondowoso selama ini telah mengumpulkan dan menyalurkan zakat. Bahkan, hasil audit terbaru, Baznas mendapatkan nilai wajar tanpa pengecualian (WTP). “Ini menjadi modal kepercayaan masyarakat,” terangnya. 

Modal kepercayaan itu adalah hal yang sangat penting. Sebab, masyarakat perlu tahu zakat itu disalurkan untuk apa dan bagaimana pengelolaannya. Ketika sudah WTP, maka pengelolaannya minimal sudah dipercaya dan diuji. 

Untuk meningkatkan pengumpulan zakat, kata Amin, memang diperlukan sosialisasi tiada henti. Sebab, banyak orang yang bukannya tidak mau membayar zakat, namun tidak sadar atau lupa. Kalau ada yang terus mengingatkan, maka akan lebih baik. “Sosialisasi zakat kepada masyarakat betul-betul diperhatikan,” terangnya.

Selama ini, zakat yang terkumpul setiap tahunnya berkisar antara Rp 900 juta sampai Rp 1,2 M. Namun, potensi di Bondowoso mencapai Rp 6 M. Edukasi dan sosialisasi perlu ditekankan kembali. Oleh karenanya, pemerintah tidak hanya memberi anjuran kepada ASN, namun juga para pengusaha di Bondowoso. Seperti yang dilakukan di pendapa, selain mengumpulkan pejabat sektoral, pemkab juga mengundang para pengusaha.

Ke depan, Amin berharap ada kampung percontohan zakat. Kampung itu benar-benar dipusatkan untuk penyaluran zakat. Targetnya, dengan penyaluran zakat, masyarakat bisa berdaya ekonomi, dan lambat laun orang yang ada di zona tersebut, tidak lagi menerima zakat, melainkan menjadi pemberi zakat. “Ada kampung percontohan. Kampung ini digerojok zakat sampai seluruh masyarakatnya sejahtera,” terangnya.

Sementara Ketua Baznas KH Muhammad Junaidi mengatakan, kewajiban zakat adalah sebagaimana kewajiban orang menunaikan salat. Maka, tidak boleh seseorang membeda-bedakan kewajiban ini. “Kadar kewajiban zakat dan salat sama-sama wajib,” terangnya.

Dijelaskannya, sampai April ini Baznas Bondowoso telah mengumpulkan zakat, infak, dan sedekah sebesar Rp 276,27 juta. Harapannya, ke depan dengan banyaknya unit pengumpul zakat (UPZ) baru, akan menambah minat masyarakat untuk berzakat. 

Kiai Junaidi menambahkan, saat ini Baznas sudah menggunakan Sistem Informasi dan Manajemen Baznas (SIMBA). Sehingga muzakki atau orang yang membayar zakat, bisa memantau aliran zakatnya disalurkan ke mana dan untuk siapa. 

(jr/hud/das/JPR)

Source link