Sekitar tiga Ratus warga di Perumnas Ngronggo, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota hampir saja tidak bisa menggunakan hak suaranya dalam Pilkada serentak tahun ini. Pasalnya hingga tengah malam jelang pemilihan mereka masih belum mendapatkan undangan pencoblosan. Penyebabnya, mereka tidak masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Warga pun sempat tegang karena tak mendapat formulir C6. Rata-rata mereka adalah pemilih di TPS 20 Kelurahan Ngronggo. “Baru tengah malam kami dapat alat bantu dokumentasi pemilih agar bisa memilih,” ungkap Harianto, salah seorang warga.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Kediri warga tidak merata mendapatkan C6 . Misal, dalam satu rumah berisi empat orang, hanya satu yang masuk DPT dan mendapat C6. Bahkan, ada satu rumah yang tak masuk DPT semuanya. Total, ada 342 warga yang tidak masuk DPT.

Karena itu, tengah malam mereka mendapat ‘serangan fajar’. Dibangunkan oleh petugas. Untuk mendapatkan surat tersebut. Hanya, ratusan warga tersebut tidak bisa memilih sejak pagi. Mereka baru bisa menyalurkan hak pilihnya satu jam saja. Yaitu sebelum TPS ditutup pada pukul 13.00 WIB. Sebab, mereka masuk dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). “Karena hanya boleh siang banyak warga yang kesulitan untuk mencoblos,” pria yang rumahnya di timur TPS tersebut.

Karena harus menyoblos siang, padahal harus bekerja, warga akhirnya terpaksa banyak yang golput. Mereka lebih mementingkan untuk berangkat bekerja. “Banyak juga yang memilih bekerja mas. Kalau sudah begitu ya golput,” tegasnya.

Karena sebagian besar mereka adalah pencoblos di TPS 20, kondisi TPS tersebut relatif sepi. Karena DPT di tempat itu hanya 275. Anis Iva Permatasari, komisioner KPU Divisi Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih menerangkan bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan ratusan warga Perumnas Ngronggo tidak masuk DPT. “Memang benar sekitar 342 warga tidak masuk DPT,” ungkapnya.

Penyebab pertama menurutnya adalah terdapat warga yang pindah domisili dan tidak ada di perumnas itu. Namun KTP-elnya masih terdaftar warga Perumnas. Sehingga saat petugas coklit mengecek tidak ketemu. Dan dianggap sudah pindah dan tidak tercoklit.

Selain itu menurut Anis karena wilayah tersebut masuk perumahan yang cenderung banyak juga pendatang dan baru ber-KTP-el perumnas. “Bisa jadi sudah diinput data mereka, tapi terdelete by system juga bisa,” tegasnya.

(rk/fiz/die/JPR)

Source link



  • Anang InLanderz

    apanya yg serangan fajar?
    itu harianto yg diwawancara masih sore dah tidur,
    yang nerima undangan anaknya febri…
    undangan tak antar jam 8an…
    kLo buat berita itu yg benar jangan menyesatkan..