Sidang dimulai sekitar pukul 10.00. Begitu mendapat kesempatan, JPU KPK langsung mencecar Taufiq dengan sejumlah pertanyaan terkait operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta pada 24 Oktober 2017 lalu. Di depan majelis hakim, JPU KPK membeberkan tentang kedatangan Suwandi dan Ibnu Hajar ke Jakarta dengan membawa uang Rp 298 juta yang akan diberikan kepada Taufiqurrahman.

Ditanya tentang kedatangan bawahannya ke Jakarta yang menginap di hotel terpisah, Taufiq mengaku tidak tahu. “Saya tidak tahu (kalau Suwandi dan Ibnu Hajar ke Jakarta, Red),” elak Taufiq. Hal yang sama juga diungkapkan Taufiq saat ditanya tentang keberadaan uang ratusan juta rupiah untuk Taufiq.

Suami Ita Triwibawati itu juga tidak mengakui sejumlah setoran yang diterimanya dari sejumlah pejabat Pemkab Nganjuk selama 2017 dan sebelumnya. “Saya lupa,” jawab pria yang kemarin memakai baju batik itu.   

Melihat Taufiq mengingkari semua pernyataan saksi yang dihadirkan di persidangan sebelumnya, Penasihat Hukum Suwandi, Edi Sucipto meminta agar majelis hakim mengonfrontir Taufiq dengan kliennya. Tetapi, permintaan Edi tidak dikabulkan oleh majelis hakim. “Klien saya siap untuk dikonfrontir (dengan Taufiq, Red). Tapi majelis hakim tidak berkenan, mungkin hakim punya pertimbangan sendiri,” kata Edi.

Lebih lanjut Edi mengatakan, Suwandi mengumpulkan uang dari sejumlah pejabat atas perintah Taufiqurrahman. Hal yang sama juga dilakukan terdakwa kasus suap jual-beli jabatan Harjanto. “Saksi Harjanto saja pernah dimarahi karena tidak setor. Dia juga dipermalukan saat ada pertemuan antarkepala dinas,” lanjut Edi.

Untuk diketahui, dalam sidang kemarin Taufiq berkeras tidak memerintahkan Ibnu Hajar dan Suwandi meminta uang kepada para pejabat untuk kepentingan pribadinya. Saat ditanyakan tentang sejumlah keterangan saksi yang mengaku memberikan uang hingga bernilai ratusan juta, Taufiq mengaku lupa. Selebihnya, Taufiq juga mengingkari dengan menjawab tidak tahu.

Keterangan Taufiq itu bertolak belakang dengan keterangan saksi yang dihadirkan di persidangan selama dua minggu terakhir. Ajudan Bupati Nurrosyid misalnya. Dia mengakui telah menelepon Ibnu Hajar dan Suwandi untuk berangkat ke Jakarta pada Oktober 2017 lalu. Hal tersebut atas perintah Taufiq.

Tidak hanya itu, sebelumnya para saksi juga membeber aliran uang yang muaranya untuk Taufiq. Bahkan, beberapa di antaranya memberikan langsung kepada Taufiq.

Misalnya, pengakuan Kepala Dinas Lingkungan Hidup nonaktif Harjanto yang menyetor uang hingga Rp 460 juta. Kemudian, Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dinas Pendidikan Suroto yang menyetor Rp 680 juta. Ada pula Kabag Umum RSUD Nganjuk nonaktif M Bisri yang menyetor Rp 275 juta.

Sejumlah pejabat dan aparatur sipil negara (ASN) lain juga menyetor uang dalam jumlah yang bervariasi. Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Teguh Sujatmiko menyetor total Rp 110 juta. Hingga, Kepala SMPN 5 Nganjuk Sutrisno yang menyetor Rp 40 juta.

Selain untuk memenuhi kebutuhan pribadi Taufiq, uang suap bernilai ratusan juta rupiah itu, salah satunya diakui saksi untuk keperluan mengurus rekomendasi Ita Triwibawati ke salah satu partai politik.

(rk/rq/die/JPR)

Source link