Seperti diungkapkan Wahyu Ernawati, 36, pedagang telur ayam di Pasar Setonobetek, kemarin (24/6). “Daging ayam turun, harga telur justru naik,” tutur Wahyu. Ia mengakui bila sejak puasa, permintaan pelanggan terhadap telur ayam setiap hari selalu ada. Padahal, sebenarnya, dia menjual sembako di kiosnya. “Hari ini bisa Rp 22 ribu sampai Rp 23 ribu per kilogram. Tergantung perkembangan di pasar,” ujarnya. Wahyu mengakui bila suplier telur ayam yang mengisi pasokan telurnya juga cenderung membatasi persediaan. “Kalau permintaan meningkat terus, stoknya pas terbatas. Bisa naik drastis harga telur ayam,” terangnya.

Berbeda dengan yang di dalam pasar, pedagang yang berjualan di luar pasar, menjual telur dengan harga lebih rendah. Yaitu Rp 20.500 per kilogram. Meski begitu, menurut Kusmanto, harga itu masih cenderung naik. “Ini berpotensi naik ke depannya, walaupun pasca-Lebaran,” ujarnya saat dijumpai Jawa Pos Radar Kediri.

Ia mengakui bila kenaikan harga komoditi telur ayam pasca-Lebaran disebabkan oleh pasokan telur ayam yang cenderung terbatas untuk kebutuhan mendatang. Kebutuhan konsumen terhadap telur ayam menjelang hingga saat Lebaran berlangsung juga ikut mempengaruhi pasokan telur ayam hingga saat ini. “Dua hari lalu naik Rp 500 dari harga Rp 20 ribu. Sebelumnya, pas hari H lebaran Rp 19.500 per kilogram,” terangnya.

Kusmanto sendiri mengungkapkan bila  pasokan telur ayam tergolong aman namun berpotensi tidak aman untuk hari-hari ke depannya. “Pokoknya kalau harga naik terus. Pasokan telur ayam semakin berkurang dari biasanya,” ujarnya sambil melayani pembeli.

Ia juga mengakui bila permintaan konsumen yang tinggi terhadap telur ayam serta pasokan yang semakin berkurang dapat berpotensi mengalami kenaikan harga di pasaran. “Kalau tidak seimbang antara permintaan dengan persediaan. Harga ya cenderung naik,” katanya.

(rk/die/die/JPR)

Source link