Kegiatan ini melibatkan tokoh masyarakat dan perangkat desa yang ada di wilayah Kecamatan Tempurejo. Selain itu juga ada perwakilan dari Kecamatan Silo yang bertempat di kantor Balai Desa Curahtakir, tempurejo. Sebelum dilakukan pertemuan dengan warga dan tomas tim dari tiga pilar tersebut harus mengecek lokasi yang sangat rawan terjadinya longsor saat terjadi hujan yang cukup deras. 

Untuk menuju lokasi yang rawan longsor harus ditempuh dengan menggunakan sepeda motor trail karena harus naik turun gunung. Saat mengecek lokasi yang rawan melibatkan polres, TNI, Perhutani, dan beberapa Kades yang ada di Tempurejo. “Setelah dari balai desa, tim dilanjut dengan mengecek di wilayah Dusun Baban Barat, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, juga dengan trail, ujar Widi Prasetyo Plt Ka BPBD jember.

Menurut Widi, untuk wilayah Tempurejo dan Silo, merupakan salah satu wilayah di Jember yang akan menerima curah hujan yang tinggi. Dari dua wilayah tersebut pergerakan tanahnya menengah sampai tinggi didasarkan dari ESDM yang dirilis pada bulan November 2017. “Pertemuan yang dilakukan ini dalam pencegahan risiko bencana (PRB),” ujar Widi.

Dia berharap agar warga benar-benar mewaspadai musim hujan, karena perkiraan BMKG, Bulan Desember 2017 dan Januari 2018 ini adalah puncak curah hujan di wilayah Jember. Terutama bagi warga masyarakat yang tempat tinggalnya berdekatan dengan tebing ataupun aliran sungai.

Namun sebelum curah hujan, pihaknya wanti-wanti bahwa pergerakan tanah sangat rawan terhadap terjadinya longsor. Ada beberapa titik di wilayah Jember ini yang memiliki tingkat pergerakan tanah sangat tinggi . Salah satunya, kata dia, wilayah Kecamatan Tempurejo, dan Silo. Dua kecamatan tersebut, lanjut dia, memiliki potensi pergerakan tanah beberapa titik di wilayahnya ini memiliki potensi pergerakan tanah yang sangat tinggi.

Sementara Dandim 0824 Lekol Inf Rudianto  menambahkan, setelah mengecek di sekitar area yang dilewati, ternyata banyak pohon yang sudah tidak ada. “Memang bapak- bapak memerlukan lahan untuk ditanami. Tetapi harus jangan hanya mengingat diri kita sekarang saja, tetapi harus ingat anak cucu ke depan,” ujarnya.

Ke depan, kata Dandim, warga akan menanam tanaman yang bisa menjaga kondisi tanah, yakni dengan menanam tanaman keras yang nilai ekonomisnya lebih tinggi. “Seperti pohon durian, petai dan avokad. Dengan tanaman tersebut kalau dikelola dengan baik hasilnya akan lebih baik”, pungkas Rudi. 

(jr/jum/das/JPR)

Source link