Kabid Pembinaan SD dan SMP Dinas Pendidikan Blora Bambang Sinung Widoyoko mengatakan, sudah diperintahkan membentuk tim untuk me-regrouping sekolah tersebut. Untuk gurunya, nanti akan dimutasi ke sekolah yang kekurangan tenaga pengajar. ”Kemungkinan Agustus tim sudah terbentuk. Kami analisa dulu sebelum pengajuan ke bupati. Prosesnya hingga selesai maksimal tiga bulan,” katanya.

Proses regrouping-nya, tiga siswa SDN 2 Sonorejo yang baru akan digabung ke SDN 1 Sonorejo terlebih dahulu. Selanjutnya, gurunya dipindah dan diusulkan penghapusan. Sehingga nantinya sekolah tersebut menjadi aset pemkab.

Sinung belum tahu pasti kenapa di SD itu minim siswa. Padahal PPDB (penerimaan peserta didik baru) tahun ini sudah menggunakan zonasi. Di mana siswa yang bertempat tinggal di desa tersebut hanya boleh mendaftar di sekolah yang dekat dengan tempat tinggal.

”PPDB SD dibuat zonasi supaya semuanya dapat siswa. Tidak ada yang menang-menangan. Tapi untuk kasus di SDN 2 Sonorejo hanya mendapat tiga siswa kami belum tahu penyebabnya. Mungkin siswa di lokasi tersebut memilih ke MI (madrasah ibtidaiyah). Sebab sekolah dari kemenag dan swasta tidak berlaku zonasi,” terangnya.

Dia menambahkan, saat ini orang tua siswa masih fanatik agama. Sehingga lebih memilih sekolah swasta dan MI. Sistem zonasi ini memang ada plus dan minus-nya. Namun tetap kalah dengan keputusan orang tua siswa.

Sinung mengaku, hingga hari terakhir PPDB selesai beberapa waktu lalu, SD Negeri 2 Sonorejo memang hanya mendapatkan tiga siswa. Padahal, SD N 2 Sonorejo membuka kuota pendaftaran sebanyak 28 orang siswa. Meski demikian, pihak sekolah tetap menerima dan tetap akan menjamin proses belajar mengajar berjalan seperti biasa. “Berapa pun siswanya harus diterima dan diajar. Karena memang ketentuannya seperti itu,” jelasnya.

(ks/sub/lil/top/JPR)