Dihari yang sama, terdakwa Reni Eka Saputri,19, warga Dukuh Tegalsari, Desa Canden, Kecamatan Sambi akan menyampaikan pembelaannya kepada Hakim Tuty Budhi Utami, Agung Wicaksono, dan Imelda selaku Majelis Hakim kasus Aborsi tersebut. Sementara tiga hakim yang menyidang bidan, yakni Hakim Tuty Budhi Utami, Adityo Danur Utomo, dan Nalfrido.

”Kedua terdakwa disidang pada hari yang sama. Cuma majelisnya (Majelis Hakim) dan agenda sidangnya berbeda,” kata Humas PN Boyolali, Agung Wicaksono, Jumat (27/4).

Bidan 33 tahun asal Desa Catur, Kecamatan Sambi itu diduga membatu mengaborsi bayi Reni. Arin yang sebelumnya bekerja sebagai tenaga medis di rumah sakit swasta ternama di Solo itu dituntut hukuman penjara 10 bulan.

”Arin bidan dituntut 10 tahun. Kalau Reni yang diaborsi dituntut 1 tahun,” jelas Agung.

Sebagai catatan, Reni Eka Saputri, 19, diduga melakukan aborsi, awal tahun ini. Pengungkapan kasus tersebut berawal saat seorang warga bernama Rio Pujiono curiga dengan ulah Reni yang meminjam cangkul malam hari (2/1). Alasannya untuk menanam bunga.

Sehari berselang (Rabu/ 3/1), Rio mencari bunga itu dan ternyata tidak ada. Dia menemukan gundukan tanah yang ditutupi genting.

Proses aborsi Reni dibantu bidan Arin Sugesti. Setelah ditangkap polisi, Reni kemudian mengakui perbuatannya. Bayi yang dikuburkan di kebun belakang rumahnya adalah hasil hubungan gelapnya dengan sang pacar.

Namun hubungan itu kandas. Reni mengaku merasa sakit hati dengan sang pacar. Apalagi dia sudah mengandung.

”Saya putus asa ditinggal pacar. Sakit rasanya,” ujar Reni.

(rs/wid/fer/JPR)