Karena itu, warga sempat melaporkan hal ini ke pihak Bhabinkamtibmas. Idi Suryanto, 46, tetangga Anwardi mengaku, sempat curiga kalau terduga pelaku memang merupakan jaringan teroris. Kecurigaan itu muncul, dari gerak-gerik serta perilaku pelaku dan keluarganya selama ini. 

Menurut Idi, pelaku dikenal tertutup. Ia jarang bersosialisasi dengan warga. Meski terkadang, saat keluar rumah ia menyapa warga. Biasanya, terduga keluar untuk berolahraga ataupun ke pasar serta toko. Itu dilakukan sejak 20 bulan lalu, saat mereka tinggal di Pogar.

TKP: Suasana di Jalan Pepaya di Pogar, lokasi rumah kontrakan Abdullah. Identitas KTP Abdullah, dan Abdullah yang bersiap kabur usai kejadian.
(Iwan Andrik/Jawa Pos Radar Bromo)

Selain itu, Idi tak mengetahui banyak aktivitasnya. Bahkan, pekerjaan Anwardi pun tidak diketahuinya. “Orangnya tertutup. Kami tidak tahu apa pekerjaannya selama ini,” katanya saat ditemui di rumahnya. 

“Kalau dia (Anwardi, Red) celananya cenderung cingkrang. Sementara istrinya, selalu mengenakan cadar.  Meski kami tidak menggeneralisasikan kalau bercadar itu mengarah ke teroris, tapi ada rasa curiga dalam benak saya. Apalagi mereka jarang bersosialisasi dengan warga,” sambung dia. 

“Yang menjadi kekhawatiran saya, kalau sampai mengenai anak-anak di jalanan. Saya memang  curiga. Bahkan, saya sempat membuntutinya (Anwardi, Red) saat hendak ke toko waralaba,” bebernya. 

Sedikit berbeda diungkapkan Siman Andre, warga lainnya. Meski sebelumnya tak menaruh curiga, namun ia memandang kalau Anwardi memang orang yang tertutup. “Pekerjaannya apa kami tidak tahu. Tapi yang perempuan, kabarnya jual-beli busana online,” urainya. 

Hal serupa juga diungkapkan Rafi, yang tak lain tetangga terduga teroris Abdullah. Menurut Rafi, keluarga ini orang ini tertutup, jarang berinteraksi dengan warga bahkan tertutup dengan orang kampung. Namun begitu, warga sekitar kerap mendengar Abdullah dengan istrinya, cek-cok. Hanya saja warga menganggap, pertengkaran itu diduga masalah rumah tangga.

Rafi mendengar kabar bahwa Abdullah memang tinggal di Pogar, agar dia dekat dengan anak pertamanya yang kebetulan sedang mondok di Bangil. 

Bagaimana saat Lebaran ? Menurut Rafi, warga jarang kesana. Hanya, kata Rafi, saat Ramadan lalu, rumah Abdullah pernah kedatangan tamu bawa mobil warna gelap. Tamu itu memakai cadar.

Pun demikian dengan yang diucapkan Santi, 33. Santi adalah orang yang ikut menolong UAF, anak Abdullah, ke puskesmas. Dia sendiri juga sempat melihat saat Abdullah mengancam warga, dan melemparkan bon pancinya. 

“Saat meledak di luar, dia (Abdullah) sempat masuk. Dan kami mendengar suara ledakan di dalam. Kami mengira dia bunuh diri,” beber Santi. 

(br/fun/one/ube/fun/JPR)

Source link