GEDUNG bioskop merupakan penanda kota pada masa lalu. Hampir semua kota berdiri gedung bioskop. Tak terkecuali di Mojokerto. Bahkan, keberadaannya tidak hanya di perkotaan. Tetapi juga muncul di kawasan pedesaan sebagai sarana hiburan masyarakat.

Bioskop mengalami masa kejayaan sejak masa penjajahan hingga pasca kemerdekaan. Namun, seiring kemajuan teknologi elektronik, eksistensinya mulai meredup karena kalah bersaing dengan televisi hingga kaset video.

Salah satu jaringan bioskop tertua yang beroperasi di Mojokerto adalah bioskop Rexx. Lokasi gedung bioskop Rexx Mojokerto ada di sisi barat daya alun-alun. Gedung tersebut berdiri sejak era kolonial Belanda. Diperkirakan dibangun sekitar tahun 1930-an

Jika dilihat segi bangunan, gedung bioskop tersebut merupakan sarana hiburan bagi kelas elite. Tempatnya juga didesain sebagai gedung pertunjukan yang multifungsi. Di samping itu, bioskop juga dikelola sebagai bagian jaringan bisnis Rexx. Jaringan bioskop yang mirip dengan Cinema 21 sekarang.

Sejarawan Ayuhanafiq menceritakan, meski bernama resmi bioskop Rexx, namun orang seringkali menyebutnya sebagai bioskop sirene. Menurutnya, nama yang dikaitkan dengan keberadaan sirene yang ada di dekat gedung tersebut. Letaknya tiang sirene ada di perempatan selatan alun-alun atau berada di timur gedung bioskop tersebut.

’’Tiang sirene didirikan untuk memberi tanda bahaya buat kota. Misalnya saat ada serangan udara,’’ ungkapnya. Dengan adanya tanda sirine itu, maka warga kota bisa siaga untuk segera menyelamatkan diri. Gedung bioskop Rexx didesain multifungsi. Selain untuk sarana menonton film, bisa juga dipakai pertunjukan kesenian rakyat. Kursinya yang dibuat bertingkat dan audio yang terpasang cukup memadai.

Di depan layar ada ruang yang lumayan luas untuk pementasan kesenian. Selain itu pada bagian belakang ada balkon penonton sebagai ruang VIP. Pantas saja, kala itu keberadaannya diharapkan memberikan hiburan bagi publik kelas menengah atas. Sebab, Kota Mojokerto dihuni sekitar dua ribuan warga Belanda dan tujuh ribuan warga etnis Tionghoa.

Pria yang akrab disapa Yuhan ini, menuturkan, pada masa perang, gedung bioskop juga dimanfaatkan untuk sarana sosialisasi kebijakan. Setidaknya Belanda dan Jepang menjadikan film propaganda untuk mencari simpati penduduk pribumi. ’’Pesan atau imbauan diberikan sebelum film diputar atau pada pertengahan film,’’ terangnya.

Ketika revolusi terjadi, gedung bioskop seolah mengalami mati suri. Tidak ada lagi film yang diputar. Pasalnya, gedung bioskop lebih banyak dialihfungsikan untuk kegiatan sosial dan rapat-rapat perjuangan.

Hingga akhirnya, pasca perang kemerdekaan, secara perlahan industri film mulai menggeliat kembali. Akan tetapi, jaringan bioskop Rexx sudah tidak lagi beroperasi lagi. ’’Bioskop Rexx berubah menjadi bioskop Indra,’’ ujarnya.

Ketua KPU Kabupaten Mojokerto ini, menyebutkan, beberapa dekade kemudian, bioskop kemudian mengalami masa kejayaan. Hal itu ditandai dengan berdirinya gedung bioskop lainnya. Di antaranya, bioskop Garuda yang lokasinya berada di utara Alun-Alun Kota Mojokerto.

Kemudian disusul gedung bioskop Ratna dan juga bioskop Brantas. Terakhir lahir bioskop yang bertempat di pertokoan Mojo Indah Plaza serta pusat perbelanjaan Kranggan. Rupanya bioskop tak hanya tumbuh di perkotaan. Tetapi juga berkembang ke wilayah Mojokerto lainnya. Yuhan menambahkan, kawasan yang pernah memiliki gedung bioskop adalah Mojosari dan Pacet.

Mojosari memiliki dua gedung bioskop yang terletak di ruas Jalan Airlangga. Yang terbesar adalah bioskop Djaya yang berada di selatan Kelenteng Mojosari. Tepatnya yang saat ini digunakan untuk swalayan. ’’Bioskop itu bertahan cukup lama hingga kemudian ditutup sekitar tahun 1990-an,’’ ujarnya.

Sedangkan gedung bioskop lainnya bernama bioskop Gembira. Bioskop ini tutup lebih awal sekitar tahun 1970-an. Dia menjelaskan, gedung bioskop Gembira dibongkar untuk dibangun sebagai terminal baru di Mojosari. Lahan bekas tempat pemutaran film itu kemudian dijadikan ruang terbuka hijau yang dinamakan Taman Lalu Lintas hingga sekarang.

Selain itu, gedung bioskop juga pernah berada di Kacamatan Pacet. Gedung bioskop itu bernama Carina. Senasib dengan bioskop lainnya, Carina juga terpaksa tutup seiring menurunnya animo penonton film. Menurut Yuhan, redupnya eksistensi bioskop terjadi setelah mulai bermunculan televisi swasta.

(mj/ram/ris/JPR)

Source link