NOOR SYAFAATUL UDHMA, Blora

SIANG itu mendung tebal menutupi langit Blora. Hujan turun demikian lebatnya. Dalam waktu setengah jam halaman rumah Soesilo Toer di jalan Sumbawa berubah menjadi kubangan. Yang terlihat hanya ujung-ujung semak yang tumbuh tak beraturan. Soesilo menerobos air itu. Badannya basah kuyup.

Dia memaksa pulang karena hendak menyambut tamu yang akan berkunjung ke rumahnya. Ternyata tamu tersebut malah sudah setengah jam menunggu. Soesilo menemui di ruang kerja. Kondisinya gelap. Lampu belum dinyalakan. Barang-barang nyaris tak kelihatan. Soes berusaha meraih colokan listrik (bukan saklar). Jleb. Byar.

Sebuah laptop usang kelihatan teronggok di depan Soes – panggilannya – yang duduk menghadap jendela. Di sampingnya berderet buku tertata rapi. Di bagian lain ratusan atau bahkan ribuan buku lain menumpuk berserakan. ”Dulu ini dapur. Sekarang jadi ruang kerja saya,’’ katanya.

Soes menganggap ruang kerja. Karena di situlah biasanya dia membaca buku dan menulis. Di situ pula dia melayani pembelian buku. Jangan dibayangkan kondisinya seperti ruang kerja di kantor. Wartawan koran ini berkesan mirip gudang. Tak ada barang yang tertata rapi kecuali deretan buku di sebelahnya. Itulah buku-buku karyanya yang masih dijual.

Sosilo adalah seorang penulis. Dia mendapat titisan bakat dari kakaknya Pramoedya Ananta Toer, sastrawan yang karyanya diakui di seantero jagad. Sudah 20 buku diterbitkan. Belasan lainnya antre untuk dicetak. Dia menulis sejak usia belasan tahun. Sampai sekarang pun masih menulis.

Soes menulis di sela kesibukannya memulung sampah. Setiap malam dia berkeliling kota Blora untuk mengais barang-barang bekas seperti kertas, botol, kardus, dan gelas. Siang sering memilah-milah sampah itu untuk dijual. Lantas menulisnya? ”Pokoknya tergantung mood. Kalau sedang baik, ya menulis. Kalau tidak, ya tiduran. Atau baca buku,” jelasnya.

Suriyatem, istrinya, yang duduk tak jauh dari Soes menimpali. ”Tapi banyak tidurnya,” katanya. Soes tersenyum mendengar sindiran istrinya yang dari Sleman itu.

Kehidupan Soes tidak jauh berbeda dengan orang kebanyakan. Bangun pagi, minum air putih, dan makan. Setelah itu, baca buku. Kadang-kadang membersihkan perpusatakaan. Kemudian memilah barang-barang yang diperolehnya dari memulung. Setelah itu, mulai membersihkan diri dan membaca lagi. ”Pokoknya kalau malam operasi. Setelah itu, kegiatannya bebas. Tidak tentu,” ungkapnya.

Soes menulis apa saja. Tidak melulu soal ekonomi, ilmu yang dikuasainya. Tentang sejarah, biografi, kehidupan, budaya, ekonomi, rumah tangga, hingga kecantikan. 

Sejak usia belasan, dia sudah menulis buku. Ditulis sedikit demi sedikit. Sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang diperoleh. Sepulang dari Rusia buku itu diterbitkan. Judulnya Dunia Samin. Saking larisnya, hingga saat ini buku itu masuk cetakan keempat. Wartawan koran ini membeli sebuah. Harganya Rp 70.000.  ”Udah abis ini. Ini sedang cetak lagi,” katanya. Logat Jakartanya masih terasa.

Yang fenomenal, pada usia 15 tahun, dia menulis tentang nasehat perkawinan. Diterbitkan di majalah Roman Jakarta (tahun 1952). Memang aneh. Dia belum kawin tetapi bisa menulis nasehat perkawinan. Honornya Rp 40. ”Pikiran saya saat itu yang penting dapat duit. Tidak mikir lainnya. Eh jadi juga,” terangnya.

Tulisan demi tulisan diterbitkan. Hingga saat usianya menginjak 17, profilnya dimuat di Majalah Cermin (Tahun 1954). Soesilo merasa tersanjung. Sayang, terjadi petaka. Ketika diminta mengisi data diri, dia menuliskan usia 16 tahun. Padahal, sudah 17 tahun.

Majalah Cermin menilai Soes pembohong. Tulisannya tak lagi dimuat di majalah. Dia pasrah. Toh di majalah itu honornya hanya Rp 30.

Honor tersebut sangat kecil. Bandingkan dengan ketika dia menulis soal kecantikan di majalah Keluarga. Dia dikasih honor super banyak. Bahkan, paling tinggi di antara penulis lain. Mau tahu? Rp 150 ribu untuk satu artikel. Honor itu hampir setara dengan gaji Pramoedya, kakaknya, selama sebulan.

Saking banyaknya dia tidak berani mengambil sendiri honornya. Dia utus adiknya. ”Adik saya tak suruh ngambil. Malu, bayarannya paling tinggi kok,” kenangnya.

Ketika muda itu, Soes juga aktif menulis di majalah Brawijaya (majalah militer). Saat itu, dia sempat mengarang tentang gerilyawan. ”Yang penting dapat duit,” prinsipnya.

Saat di Rusia, dia juga aktif menulis. Tulisannya banyak dimuat di majalah dan koran lokal. Dia juga menerjemahkan buku berbahasa Rusia ke Indonesia. Juga sebaliknya. Tak heran, saat di Rusia dia banyak duit. ”Di Rusia, orang menulis itu betul-betul dihargai. Sebab, dianggap pekerjaan intelektual. Kalau di Indonesia kan gak. Malah dipenjarakan,” sindirnya.   

Sampai sekarang Soes masih aktif menulis. Kapan menulisnya? Beberapa kali wartawan koran ini ke rumahnya tak pernah melihat Soes menulis. Dia mengakui, belakangan hujan terus-menerus mengguyur. Kondisinya kurang sehat. Pilek. Berkali-kali dia memegangi hidungnya yang lubangnya tertutup kumis. Mala, waktu senggangnya lebih banyak dihabiskan dengan membaca buku.

Saat ini dia masih membaca buku George Adi Chondro yang berjudul Membongkar Gurita Cikeas. Buku ini menceritakan keterlibatan Soesilo Bambang Yudoyono (SBY) dalam skandal Bank Century. Buku itu mendapat reaksi keras dari SBY.

Dia senang buku itu karena terdapat ajaran Karl Marx. Hanya saja, masih jauh dan tak sampai menyebut Lenin. Padahal jika ditulis lebih mendalam dan mengkaitkan Lenin akan jauh lebih bagus. ”Padahal saya pengagum Lenin,” akunya. Soes semakin bersemangat ketika perbincangan menyangkut sejarah.

Kebanyakan tokoh yang dikagumi berasal dari luar negeri, termasuk J.F Kennedy. Sebagai pengagumnya, Soes tahu banyak tentang sejarah presiden Amerika ke-35 itu. Bahkan, dia menulis biografi Kennedy. Baginya, Kennedy adalah salah satu tokoh yang banyak menginspirasi.

Lalu siapa tokoh Indonesia yang diidolakan, Soes menjawab tidak ada. Padahal, banyak orang yang mengatakan, Soesilo mengagumi Soeharto. Bahkan dia diberi pangkat Letnan oleh penguasa orde baru itu. ”Itu kan kata orang. Tidak ada yang saya kagumi di Indonesia,’’ ujarnya. Dia tampak mesam-mesem.

Lelaki yang memiliki satu anak ini lantas menyebutkan parodi tokoh Indonesia. Diambilnya dari sebuah buku karangan Darman. ”Soekarno gila perempuan. Soeharto dikuntit perempuan. Habibie kayak perempuan. Gur Dur dipimpin perempuan. Megawati benar-benar perempuan. Dan SBY sok gak suka perempuan.

Tentang Jokowi? Dia belum mau menyebutkan. Sebab, Jokowi belum selesai menjabat. Namun, dia sempat membela presiden ketujuh tersebut. Dia mencoba meluruskan pemberitaan tentang Jokowi. Berita yang beredar, kata Soes, ibu Jokowi itu bernama Sulami, sekjen Gerwani.

Dia ceritakan, ketika Sulami studi di Jerman, mertua Soes juga sekolah di sana. Setelah itu, Sulami dan mertuanya menikah. ”Bagaimana bisa Jokowi lahir dari Sulami? Kan Sulami menikah dengan mertua saya,’’ tuturnya terbahak-bahak. Wartawan koran ini ikut tertawa. Dengan tertawa bersama tamu-tamunya, kata Soes, umurnya terus bertambah.

Kini, kata Soes, hidupnya lebih santai. Karya terbarunya tentang realisme sosialis telah rampung. Sudah dijilid. Tapi, masih berwujud print out. Itu terjemahan buku milik Marxim Gorky. Aslinya berbahasa Rusia. Tetapi, berbeda dari bahasa Rusia kebanyakan. Lebih sulit. Disamping menggunakan bahasa di luar Moskow, banyak kata yang disingkat.

”Dialek kan banyak. Di Indonesia saja banyak dialek. Anda pernah makan kolor?” tanyanya. Wartawan Jawa Pos Radar Kudus ini menggeleng tak paham. Soes tertawa. Istrinya membantu menjawab. “Kolor itu, soko lor (dari utara),” kata Suratiyem.

Soes masih tertawa lantas membisiki. ”Nah, itu. Maksudnya kolor itu soko lor. Kalau orang Blora tahu singkatan begitu. Ini sama halnya dengan dialek Moskow, ya begitu. Disingkat-singkat. Jadi agak sulit. Orang Rusia saja belum tentu bisa,” terangnya mengenai kesulitan menerjemahkan karya Gorky tersebut.

Sesulit apapun Soes menyelesaikannya tanpa beban. Dengan begitu hidupnya menjadi ringan. Dia menggambarkan dengan bernyanyi. ”Senja itu angin laut. Sepoi meniup.” Lirik itu dia bikin sendiri ketika tentara Indoensia masuk ke Timor-Timor.

Masih ingin mengalahkan kakaknya Pramoedya? Dalam bidang lain, ya. Tetapi, dalam menulis, dia menyerah. ”Kalau itu betul-betul sulit,’’ ujarnya. Pram telah menerbitkan 55 buku. Sedangkan Soes baru 20 judul. (bersambung)

(ks/ris/top/JPR)