DIRAWAT: Salah satu korban.

KEDIRI KABUPATEN- Tragedi menimpa kelompok mahasiswa pecinta alam (mapala) dari Universitas Nusantara (UN) PGRI Kediri. Rencana mereka menggelar kegiatan lapangan untuk anggotanya kemarin (15/4) berakhir dengan bencana. Satu perahu yang mereka gunakan untuk aktivitas rafting di Sungai Pait, Kandangan, terbalik . Akibatnya, tiga mahasiswa mereka hanyut. Satu orang di antaranya akhirnya meninggal saat sampai di puskesmas.

Mahasiswa yang meninggal itu adalah Mufidatul Anisa. Dia adalah mahasiswa semester 2 jurusan matematika asal Dusun Teken, Desa Tekenglagahan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Saat ditemukan, korban dalam keadaan kritis. Saat sampai di Puskesmas Kandangan, nyawa anggota baru Mapala Pelita itu tak terselamatkan.

Selain Anisa, dua mahasiswa lagi yang juga sempat hanyut hingga 2,5 kilometer. Untungnya, dua mahasiswa itu masih bisa diselamatkan. Mereka adalah Jumrotun Munawaroh, warga Desa Kras, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, dan Khusnul Sholika, asal Kabupaten Trenggalek.

“Sudah ditemukan semua korban (yang hanyut). Intinya, dua orang selamat, satu orang meninggal,” terang Randy Agatha Sakaira , kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri.

Menurut Randy, kelompok tersebut menggelar kegiatan internal yang kebetulan lokasinya di luar kampus. Semua panitia berasal dari unit kegiatan mahasiswa (UKM) pecinta alam. Juga, semua peralatan yang digunakan berasal dari UKM tersebut. “Jalur untuk rafting itu juga mereka buat dan tentukan sendiri,” jelas Randy.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, kegiatan semacam diklat untuk anggota baru mapala itu berlangsung sejak Sabtu (14/4). Diikuti oleh 15 anggota mapala, termasuk tiga orang panitia. Mereka memilih Gg Keramat, Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, sebagai base camp.

Setelah menginap semalam, kemarin siang mereka menggelar kegiatan rafting. Pesertanya 12 orang. Mereka dipecah dalam dua grup. Masing-masing grup menaiki satu perahu karet.

Acara arung jeram itu berlangsung mulai pukul 14.30. Mengambil lokasi start di Dusun Mloyo, Desa Mlancu, Kecamatan Kandangan. Dua perahu karet itu berjalan beriringan selepas start.

Awalnya situasi berjalan lancar. Dua perahu karet itu menyusuri aliran Sungai Pait. Masalah baru tiba ketika mereka berada sekitar 200 meter menjelang finish di base camp. Tiba-tiba, perahu mereka oleng. Penyebabnya adalah badan perahu karet menabrak batu. Para penumpang tak bisa menjaga keseimbangan. Kedua perahu pun terbalik.

Menurut keterangan Camat Kandangan Sunar Utomo, kedua belas anggota mapala itu akhirnya tecebur ke sungai. Sembilan orang bisa langsung menyelamatkan diri. Namun, tiga mahasiswa perempuan hanyut terseret aliran air yang deras.

“Sembilan orang langsung diselamatkan oleh warga sekitar,” terang Sunar.

Warga dan tim penolong kemudian berusaha mencari tiga mahasiswa yang terseret arus. Ketiganya hanyut hingga ke Desa Banaran, Kecamatan Kandangan. Warga setempat kemudian menolong ketiga gadis tersebut. Kemudian mengevakuasinya ke Puskesmas Kandangan.

Namun, malang nasib Mufidatul Anisa. Mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika ini meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan dari pihak puskesmas. Dua korban dinyatakan selamat meskipun harus menjalani perawatan medis.

Menurut Randy, bahwa evakuasi kepada para korban. Beberapa alat yang digunakan untuk rafting dan panitia penyelenggara kegiatan saat ini diserahkan ke polisi. “Untuk alat-alat rafting dan panitia masih diperiksa polisi,” terang Randy.

Sementara itu, pihak kepolisian masih belum berani memastikan penyebab kecelakaan itu. Mereka juga belum bisa memastikan apakah akan ada tersangka atau tidak. Sebab, saat ini polisi masih terus menggali data dan informasi.

“Masih kami selidiki,” aku Kasubag Humas Polres Kediri AKP Setyo Budi, saat berusaha dikonfirmasi Jawa Pos Radar Kediri.

(rk/*/die/JPR)

Source link