BANYUWANGI – Komunitas pencinta lingkungan Sea Soldier Banyuwangi tetap kukuh menolak proyek pembangunan infrastruktur di puncak Ijen.  Kini mereka melayangkan surat tindak lanjut petisi penolakan pembangunan serta surat permohonan informasi publik.

Mereka mengirimkan delapan surat tersebut kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beserta surat tembusan kepada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) lewat kantor Pos Banyuwangi kemarin (16/11).

Isi surat tersebut berkaitan dengan penolakan diadakannya pembangunan di puncak Ijen. Dari hasil sosialisasi di Paltuding Rabu lalu (8/11), menurut komunitas pencinta alam tersebut, pertemuan itu tidak berjalan kooperatif dan sangat antiklimaks.

Menyikapi hal tersebut, Sea Soldier mengirimkan surat kepada KLHK sesuai dengan yang disarankan oleh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya alam (BBKSDA) Jatim. ”Karena apa yang disosialisasikan oleh Kepala BBKSDA Jatim tidak membuat kami puas. Dan ini merupakan jalan yang disarankan, karena itu sekarang kami mengirimkan delapan surat kepada KLH,” ujar Koordinator Sea Soldier Banyuwangi Putri Agustin.

Surat yang dilayangkan tersebut akan direspons kurang lebih sepuluh hari. Jika nanti surat tersebut tidak ditanggapi, Sea Soldier akan mengirimkan surat untuk Presiden dan surat tembusan kepada DPR RI terkait penolakan proyek di puncak Ijen. ”Kami mengirim surat sesuai prosedur dan secara jelas kami menolak pembangunan beton di puncak Gunung Ijen,” tegasnya.

Putri menambahkan, jika pembangunan di Ijen sebelumnya tidak ada konsultasi publik terlebih dahulu. Konsultasi publik baru dilakukan setelah pembangunan Ijen berjalan dan itu terkesan sebagai forum legitimasi. Apabila membangun sarana dan prasarana publik hendaknya lebih dulu melakukan  analisis serta kajian yang representatif mengenai penempatan bangunan. ”Kami mengajukan surat tersebut agar KLHK menginstruksikan kepada BBKSDA untuk menghentikan segala aktivitas pembangunan Ijen,” tandas Putri.

Seperti diberitakan sebelumnya, saat ini sedang berlangsung pembangunan infrastruktur di puncak Ijen. Bangunan tersebut berupa sarana toilet, pendapa gardu pandang, dan pagar pembatas antara pengunjung dan Kawah Ijen.

Pembangunan infrastruktur di puncak Ijen tersebut menuai banyak kritik. Pegiat lingkungan, komunitas fotografer, dan mahasiswa menilai bangunan tersebut bisa mengurangi keaslian wajah Ijen. Mereka pun ramai-ramai menggalang penolakan proyek milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur tersebut.

Kepala BKSDA Jatim Ayu Dewi Utari mengatakan, pembangunan puncak Ijen merupakan fasilitas untuk keselamatan para pengunjung. Bangunan musala dan toilet di puncak akan dipergunakan pengunjung untuk menambah kenyamanan.

BKSDA sudah memperhitungkan sebelumnya dan proyek tersebut sudah diajukan sejak 2014 dan sekarang anggarannya baru keluar. Dan perlu ditegaskan lagi jika proyek tersebut tidak merusak ekosistem di Gunung Ijen.

Source link