Pemberlakuan memang sempat bikin geger. Banyak yang mengira biaya umrah bakal melejit. Padahal, hanya pajak transportasi, akomodasi dan hotel. Termasuk visa bagi pemberlakuan visa progresif yang dalam setahun berkunjung ke Saudi.

Hj Masturoh Wardah, pengusaha biro perjalanan umrah asal Lumajang mengaku pemberlakuan pajak itu tak akan jadi persoalan. “Memangnya kenapa sih? Lha wong cuma 5 persen,” kata Maturoh Wardah yang saat dihubungi sedang berada di Makkah. 

Dan pajak itu pun bukan pada biaya umrah. Melainkan hanya pada biaya tertentu di Saudi. Sampai kemarin, kata pemilik PT Wardah Tour and travel ini, di Makkah masih belum diterapkan. “Masih belum. Ini saya di Makkah belum ada penerapannya,” katanya. 

Soal kenaikan pajak itu menurut dia tidak masalah. Bahkan sudah biasa ada kenaikan pajak. “Biasa saja itu. Naiknya cuma 5 persen. Tidak sampai satu juta. Paling Cuma Rp 140 ribu,” katanya setelah menghitung dari angka dolar.

Kaitan dengan visa progresif yang bakal dipatok tinggi, menurut dia, juga tidak ada problem. “Itu sudah lama. Sudah dua tahun ini. Cuma bagi yang berkunjung dalam setahun lebih dari sekali. Yang tidak ya enggak,” katanya.

Memang nominalnya sampai Rp 7,3 jutaan. Namun jamaah umrah tidak termasuk. Karena kebanyakan dalam setahun hanya sekali ke sana. Namun, bagi dia dan suaminya, Aba Tholam, sudah terkena kebijakan ini. Sebab, berkali-kali dalam setahun berkunjung ke Saudi. “Dan saya bayar itu,” ungkapnya.

Dengan demikian, kenaikan pajak itu tidak bisa dinafikan. Namun, dengan besaran hanya 5 persen pada belanja tertentu, menurut dia, tidak masalah. Kepada jamaahnya yang bakal berangkat Januari ini, dia memilih tidak memberlakukan. Karena mereka sduah booking di bulan Desember. 

Sementara jamaah di bulan Februari dan seterusnya memang kena kenaikan. Namun dia memastikan hanya sedikit. Dia juga memilih perusahaaanya yang akan menanggung. “Kan cuma sedikit. Sudahlah kami yang tanggung. Kami gak mau membebani jamaah,” katanya. 

Bagaimana dengan tiket yang kabarnya juga bakal dinaikkan? Wardah mengaku tidak akan ikut naik. “Sebab selama ini tiket kan dipesan dari dalam negeri. Dan itu pulang pergi. Ya tidak ikut kenak tarif kenaikan,” pungkasnya. 

Kondisi ini menurutnya tidak akan jauh berbeda dengan haji. Sebab, kondisinya sama. Hanya saja, informasi kenaikan pajak ini bisa saja dimanfaatkan oleh oknum atau biro yang berniat menggunakan momentum ini untuk menaikkan harga paketan umrah. “Padahal sebenarnya tidak begitu signifikan,’’ tegasnya.

(jr/fid/ras/das/JPR)

Source link