Mulai beralihnya pembayaran tunai menjadi non tunai membuat keberadaan dompet kartu banyak dicari masyarakat. Saat ini, untuk kaum perempuan banyak menggemari dompet kartu dengan berbagai karakter lucu. Selain untuk menyimpan berbagai kartu, dompet ini cocok dibawa saat bepergian.

“Jadi card holder itu ada yang awet, namun  ada beberapa orang yang bosan dengan kemasannya, maka disulap dengan memodifikasinya menggunakan kain perca atau kain bermotif, bisa buat yang baru juga,” ujar Vita Nur Fatmawati, salah satu pengrajin kartu.

Modelnya yang semakin ramah untuk anak muda, membuat produk kerajinan ini tak jadi benda kuno yang membosankan lagi. “Modelnya banyak disukai anak muda, padahal mengenalkan kerajinan tangan itu masih sulit karena masih banyak yang belum menghargai kerajinan tangan,” sebut Vita.

Kerajinan yang naik daun di kalangan anka muda ini, seperti tempat kunci dan tempat kartu tersebut lebih lucu dan berseni. Motif dan warna yang menunjukkan karakter lebih ceria karena colorfull serta bentuk yang lebih inovatif. “Kalau yang standar, biasanya dengan model sederhana dan hanya didominasi warna dasar seperti coklat dan hitam,” jelas perempuan yang berproduksi di Giri tersebut.

Perbulannya Vita bisa memproduksi card holder dan key wallet hingga 50 buah kerajinan. Kendalanya, memang membutuhkan suasana hati yang baik untuk mencipatkan produk. Tidak seperti produk pabrik yang secara kuantitas mereka lebih unggul. “Kebanyakan konsumen muda yang mendominasi adalah mereka di rentan usia 15  hingga 30 tahunan,” sebutnya.

Dikatakan, banyak perempuan muda yang sudah berkarir menyukai card holder jenis ini. selain bisa menunjang penampilan, memang hal ini menjadi kebutuhan mereka. “Jadi banyak anak muda yang sudah berkarir memilih menggunakannya,” papar dia.

Menurutnya, aplikasi yang lebih dinamis dan berwarna mampu membuat remaja mengargai kerajinan dan menghilangkan stigma kuno. Saat ini, yang menjadi favorit disebutnya meliputi motif hewan, full colour hingga shabby chic yang saat ini sedang booming. Sayangnya, dibanding dengan konsumen Gresik, masih banyak diminati oleh masyarakat luar daerah. “Sejauh ini banyak konsumen dari Jakarta, Jogja, Bandung, Meda, Bali dan banyak lagi, setidaknya bisa masuk ke favorit anak muda dan dijadikan tren gaya hidup mereka, itu sudah bagus untuk perkembangan kerajinan tangan,” jelas dia.

Rahmatika Diah, 19, salah satu yang mengaku menyukai produk kerajinan tangan. Bahkan untuk beberapa card holdernya ia gunakan untuk kebutuhan kuliah dan kerja. “Cuma memang harganya lebih mahal bisa sampai Rp 100 ribuan, namun lebih fashionable sih jadinya,” tutur perempuan asal A. Yani ini.

Ia menambahkan, untuk penggunaanpun dianggapnya tidak menyusahkan. Hanya saja dianggapnya butuh ketelatenan untuk pembersihan. “Selain kebutuhan juga untuk style ,” imbuhnya. (est/rof)

(sb/est/ris/JPR)