MENJADI pegawai negeri sipil (PNS) bukan berarti tidak bisa punya bisnis. Novia Kumala Dewi, merintis bisnis berbasis fashion hijab yang dijual melalui jalur online alias daring. Bisnis yang bermula dengan melayani pemesanan dari teman sesama kantor yang kemudian berkembang hingga omzetnya tembus Rp 60 juta per bulan.

Novia Kumala Dewi biasa disapa Nopek. Dia bekerja di Pemkot Mojokerto. Biasanya dia bertugas sebagai pembawa acara pada kegiatan yang digelar Pemkot. Tak pelak aktivitas pegawai di Bagian Humas dan Protokoler Setdakot ini terbilang padat.

Bisnis yang digelutinya adalah penjualan hijab modern melalui online. Sejak dua tahun lalu, bisnis ini dimulai. Awalnya, dia tak menyangka bisa membuka bisnis. Apalagi karena tugasnya sebagai pegawai Negara banyak menguras fisik karena bertugas baik di dalam maupun luar ruangan. ’’Tidak terpikir sebelumnya. Awalnya, kita itu sering padu padankan busana dengan hijab. Banyak teman-teman yang suka. Lalu, baru terpikir bikin hijab,’’ ungkap Nopek.

Perempuan 35 tahun ini, menceritakan, sebagai muslimah, dia sendiri mengenakan hijab. Bersama sahabat dan teman-temannya sering kali terjadi pembicaraan tentang mode hijab. Atau hijab apa yang nyaman dipakai perempuan yang bekerja.

’’Dari situ, muncul ide menggunakan hijab brocade. Itu jenis hijab yang antikucel,’’ lontar Nopek. Hijab jenis itu terbilang tahan banting. Karena, hijab itu terbilang sulit kucel apalagi lungset kendati dilipat dalam tas atau almari. Nah, hijab demikian amat dibutuhkan perempuan yang aktivitasnya segudang.

Nopek menceritakan, dulunya ketika awal-awal mengenakan hijab banyak menggunakan bahan satin atau linen. Bahan itu memang bagus tapi gampang kucel dan lungset. ’’Pagi dipakai bagus. Kalau siang sudah kelihatan lungset. Apalagi, kalau dipakai aktivitas di lapangan,’’ terangnya.

Hijab brocade alias brukat akhirnya sering dipilih. Akan tetapi, hijab jenis ini bukannya tanpa keluhan. Jenis brukat cenderung terkesan berat dan panas. ’’Berangkat dari situ, kita akhirnya rancang hijab brukat tapi yang ringan tapi tidak gampang panas,’’ beber perempuan bermata sipit ini.

Beberapa lembar kain brukat dibelinya bersama Febriyanti, sahabatnya sesama pegawai pemkot. Awalnya hanya sekian meter. Paling-paling hanya cukup jadi sekitar tiga potong hijab. ’’Hijab ini awalnya kita pakai sendiri. Eh, ternyata kok teman-teman banyak yang suka dan akhirnya pesan kepada kita,’’ terang Febriyanti menambahkan.

Tak dinyana, hijab brukat bikinan dua perempuan ini disukai. Terlebih, pergaulan mereka yang cukup luas membuat hijab bikinannya itu gampang dikenali orang. Naluri bisnis hijab pun akhirnya keluar. ’’Teman-teman dekat, keluarga, dan kenalan akhirnya pesan kepada kita. Mau tidak mau kita bikinkan meski makan waktu juga pada awalnya,’’ lanjut dia.

Setelah berjalan beberapa lama, rupanya dagangan mereka berkembang. Novia yang terbilang sering ngeksis di media sosial, memanfaatkan media sosial sebagai tempat promosi dan berjualan. Facebook, WhatsApp, twitter, hingga instagram digunakan membuka lapak bisnis online hijab.

Di samping itu, ketika ada pameran, mereka juga sempat mengikuti. Jualan lewat online sendiri terus menerus muncul orderan. Mereka pun sering lembur larut malam untuk bisa merampungkan pesanan. ’’Sudah biasa kalau lembur sampai pukul 03.00 pagi. Tapi, pekerjaan utama kita tetap jadi prioritas utama,’’ tandas Nopek.

Karena bisnis dikembangkan lewat online, praktis ketergantuangan dengan telepon seluler cukup tinggi. Sekarang, ini bisnis hijab mereka sudah merambah ke bentuk fashion yang lain seperti busana atasan, bawahan, batik, dan lain-lainnya. ’’Sekarang kita gunakan lima penjahit untuk selesaikan pesanan. Kalau pameran seperti ini, setiap hari pesanan bisa sampai 100 order,’’ terang Nopek.

Soal omzet sendiri Nopek mengakui, bersyukur atas perkembangan bisnisnya. Karena, kalau dihitung-hitung, omzet bisa tembus Rp 60 juta untuk setiap bulannya. ’’Dibanding ketika awali bisnis dua tahun yang lalu, kita enggak nyangka bisa kembangkan bisnis ini,’’ cetusnya.

Namun demikian, hal itu tak bikin mereka keder. Malahan, motivasi untuk meningkatkan pelayanan menjadi perhatian utama mereka. Sekarang ini, akibat pesanan yang banyak, baik Novia maupun Febriyanti kerap kali kerepotan. Apalagi ketika membalas chat pelanggan, melanjutkan orderan, hingga mengatur pembuatan hijab.

Sedangkan, untuk memperkaya pengetahuan tentang fashion hijab, mereka tak segan-segan mencari referensi hingga ke luar daerah. Mereka juga kerap ikuti pameran hijab di Ibu Kota. Juga, meng-update diri lewat bacaan, internet, hingga majalah fashion. ’’Mau gak mau harus cari tahu model apa yang sekarnag ini lagi in. Juga, melakukan percobaan dan padupadankan jenis-jenis bahan lain,’’ sambung dia.

Ke depan, mereka berdua ingin mengembangkan bisnis online shop hijabnya. Tak menutup kemungkinan pula, mereka ingin membuka toko offline di Mojokerto. Oh ya. Nyaris terlupakan. Mereka ini sudah berani membuat branding produk bikinannya dengan merek sendiri. Namanya: NOYA. Gabungan awalan nama sapaan mereka, Nopek-Yanti.

(mj/fen/ris/JPR)

Source link