BALI EXPRESS, GIANYAR – Patung Dewa Siwa duduk di atas batu yang berada di derasnya aliran Tukad (sungai) Campuhan Pakerisan, Gianyar, menjadi pemandangan istimewa. Apalagi ada ikutan gaib yang mengikuti kawasan tersebut.

Sungai Campuhan Pakerisan di Gianyar, merupakan satu – satunya sungai di Bali yang memiliki dua muara berbeda yang menyatu menjadi sebuah aliran sungai. Bahkan, di tengah – tengah arus aliran sungai yang menyatu itu, terdapat air hangat yang konon dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dua sungai,  Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu memang  sudah tidak asing lagi. Sungai purba yang menjadi saksi sejarah peradaban masrakat Bali kuno. Hal itu terlihat dari berbagai relif serta prasasti yang terdapat diseluruh pura yang tersebar di sepanjang aliran sungai. Uniknya, kedua sungai besar tersebut akhirnya bertemu di tengah yang kemudian disebut Campuhan. Nah, di dekat Campuhan ini kemudian dibangun pura. Konon yang berstana di sungai Campuhan merupakan sesosok panglingsir, yang dijaga oleh seekor Buaya Putih dan Naga. Dua rencang ( penjaga gaib) ini, kadang  terlihat di antara dua aliran sungai. Kejadian aneh ini, pernah dilihat Penanggung Jawab serta Pangempon Pura Campuhan, Ida Bagus Pawitren.

“Saya pernah melihat Buaya Putih dan seekor Naga yang melintas di sungai. Wajar saja, tempat ini kan dulu juga difungsikan sebagai tempat nganyutin. Buaya dan naga juga merupakan simbolisasi pengantar arwah atman menuju nirwana,” terang Ida Bagus Pawitren. Ditambahkannya, kejadian gaib itu lantas ditanyakan ke panglingsir di griya.

” Sosok gaib itu meminta dibuatkan tempat pangayengan, dan lokasnya pohon Bingin besar depan Pura Campuhan,” ungkapnya. Dan, di tengah sungai juga didirikan sebuah patung Siwa yang duduk tenang di atas sebuah batu. Mengapa  ada siwa? “Tempat ini sesungguhnya merupakan toya pelebur mala. Semua leteh, kesialan, penderitaan, akan hanyut bersama aliran air tersebut. Sesuai pawisik (bisikan gaib), Siwa yang berstana disini sebagai pelebur mala itu. Makanya dibuatkanlah stananya di tengah aliran sungai,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa Gus Aji ini memaparkan, Ida Bhatara Panglingsir yang berstana di Pura Campuhan sangat penyayang. Pamedek yang datang dari berbagai pelosok yang datang tak hanya untuk malukat, tapi juga dengan berbagai permohonan. “Ya, beliau di sini begitu pengasih. Kadang ada dari mereka yang datang untuk memohon keturunan. Beberapa saat kemudian akhirnya terwujud. Ada juga yang datang karena gangguan jiwa, dan ada nunas obat untuk kesembuhan  berbagai penyakit,” ungkapnya.
Mantan Anggota DPRD Bali ini, mengungkapkan, toya Campuhan umumnya berkhasiat sebagai obat atau tamba. Uniknya, tak hanya mengobati masalah penyakit biasa, tempat ini juga di percaya menyembuhkan penyakit kejiwaan. “Saya pernah menyaksikannya sendiri. Ketika ada yang datang dengan keluhan kejiwaan, padahal penderitanya sedang hamil tua. Ke sini diantar suaminya. Katanya ibu itu mengalami depresi karena masalah rumah tangga. Sudah sebulan ia tidak bisa tidur, dan selalu mengamuk tidak jelas. Saya cuma memberikan saran, untuk matur piuning di Sanggah dan di Pura Campuhan. Setelah itu, mandi dan berendam di pusaran air Campuhan. Dan, sehari setelah itu, saya mendapat kabar Ibu yang malukat itu malamnya tidur dengan nyenyak, dan depresinya berangsur membaik,” ungkapnya.

Lain lagi dengan kisah pamedek asal Tabanan yang mengidap penyakit diabetes. “Ada dari Tabanan sakit diabetes nunas tamba, hampir setiap hari datang  malukat. Selang sebulan dia bilang sudah lebih baik dan berangsur sembuh,” ungkanya.

Jika ingin malukat di Pura Campuhan, Gus Aji menyarankan membawa tiga daksina. “Pertama yang harus dilakukan sebelum malukat, matur piuning dulu di sanggah, dan jangan lupa membawa pejati untuk dihaturkan di palinggih Ida Bhatara Panglingsir di palinggih Duwe Ida  di pohon bingin itu dan di Palinggih Dewa Siwa. Setelah itu, baru malukat. Jika tidak matur piuning, ya tidak malukat namanya, tapi mandi biasa,” ujarnya.

Pura yang terletak di antara desa Tampak Siring dan Desa Selat, Bangli ini, terbilang cukup tersembunyi. Untuk sampai ke areal pura dan sungai, pamedek harus melewati puluhan anak tangga yang curam. Berada tepat di bawah jembatan besar dan dikelilingi rimbunan pohon bambu, membuat tempat itu terasa agak mistis. Namun, ketika Bali Express (Jawa Pos Group) tiba di bawah, puluhan anak – anak dan orang dewasa tengah asik menceburkan diri sembari berendam di aliran sungai tersebut. Beberapa di antara mereka berendam bahkan tak menggunakan sehelai benang pun. Jika di lihat dari sejarah, sepanjang Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu memang dikenal sebagai pusat peradaban Bali kuno. Hal tersebut terlihat dari berbagai relief yang terukir apik di pura dan candi yang berjejer di sepanjang Tukad Pakerisan hingga Tukad Petanu. “Sepanjang aliran Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu, terdapat 108 sumber mata air atau patirtan yang mengalir dan menjadi satu di Tukad Campuhan Pakerisan,” paparnya.

Dijelaskannya, ada dua makna Campuhan. Pertama, karena dua sungai besar di Bali, yakni Tukad Pakerisan yang mengalir dari sebelah kiri itu bertemu dengan aliran Tukad Petanu yang ada di sebelah kanan, menyatu tepat di tempat ini. Dan, di tengah penyatuan dua aliran sungai besar itu terdapat gemuruh dan kelebutan atau sumber air kecil. “Itu yang disebut Campuhan. Campuhan artinya campuran,”ujarnya. Menurutnya, tempat itu tak hanya disebut Campuhan karena dua aliran sungai yang menyatu, namun adanya pencampuran dari berbagai macam toya yang terdapat di sepanjang aliran Tukad Pakerisan dan Aliran Tukad Petanu, juga menjadi alasan mengapa tempat tersebut di beri nama Campuhan.

“Selain pertemuan dua sungai itu, di tempat ini juga merupakan pertemuan 108 toya patirtan yang mengalir dari Pura Candi Tebing, Pura Tirta Empul, Pura Mengening, Pura Gunung Kawi, Pura Goa Garba, dan pura patirtan lainnya yang mengalir di sepanjang jalur Tukad Pakerisan dan Tukad Petanu,” ujarnya.
Diakuinya,  Campuhan dahulu dikenal sebagai tempat yang memiliki energi mistis yang kuat. “Tempat ini dulu hanya dipergunakan untuk ritual pitra yadnya saja, seperti nganyudin, upacara ngenjuh don bingin, dan segala upacara yang bersifat ngentungan. Ketika itu orang jarang datang kesini. Padahal tempat ini begitu tenang dan suci,”  ujarnya.

Pembangunan pura ini, lanjutnya,  tidak sembarangan. “Banyak proses niskala yang kami  alami. Ida Bhatara Panglingsir yang malinggih disini, benar – benar memberikan tuntunan ketika itu,” ujar Gus Aji, yang  juga merupakan pendiri sekaligus pemrakarsa pembangunan Pura Campuhan Tukad Pakerisan.
Gus Aji mengatakan, tugas adat di Griya Tampak Siring, membuatnya sering wara wiri di Tukad Campuhan.

Sebagai pangempon desa ia diharuskan terlibat dalam segala kegiatan, baik untuk urusan manusia yadnya maupun pitra yadnya di desanya.

Karena sering  berada di kawasan ini,  ia benar – benar merasakan ketenangan dan kenyaman. Sampai suatu ketika ia mendapatkan pawisik ( bisikan gaib) untuk membuatkan sebuah palinggih.
Setelah bertanya kepada sejumlah sulinggih dan panglingsir yang ada di desa, Gus Aji akhirnya memberanikan diri untuk ngayah dan membuat sebuah palinggih di sisi utara Campuhan. “Pembangunannya memang dari dana pribadi, namun pemrakarsanya dari seluruh elemen desa ikut serta. Terutama para sulinggih dan panglingsir di griya. Mereka meyakini memang Ida Bhatara di sini menuntun kami untuk dibuatkan sebuah palinggihan Ida. Serasa tak ada halangan, semua seolah mengalir begitu saja,” ungkapnya.

Namun, Gus aji menyayangkan kesakralan Pura Campuhan harus dinodai oleh beberapa oknum perguruan yang kerap datang untuk tujuan lain. “Mereka suka datang tiba tiba. Kadang tengah malam mereka datang, dan itu pun dalam jumlah banyak. Jika untuk sembahyang dan malukat masih wajar. Tapi kadang ada juga yang khusus datang, dan  sampai ada karauhan massal, dan anehnya mereka bangga kalau karauhan seperti itu. Kalau sudah begitu saya lepas tangan. Karena bagaimana pun yang ada di semesta ini kan tidak cuma kita,” ujarnya.

(bx/tya/yes/JPR)

Source link