Siapa sangka, produk logam buruan hotel-hotel tersebut dibuat oleh tangan-tangan kreatif siswa SMK. Salah satu sekolah yang memiliki jurusan Kriya Kreatif Logam dan Perhiasan, adalah SMKN 9 Solo.

”Pembuatan aksesoris tersebut masuk dalam mata pelajaran (mapel) ukir ketok. Pekerjaannya ringan, tidak terlalu banyak alat, dan bahannya mudah didapat. Sehingga peminat jurusan ini lumayan banyak,” beber Ketua Jurusan Kriya Kreatif Logam dan Perhiasan SMKN 9, Bambang Kusnendar kepada Jawa Pos Radar Solo, Selasa (17/4).

Bambang menambahkan prospek kerja program keahlian ukir ketok sangat luas. Sebab, banyak industri yang membutuhkan kemampuan membuat aksesoris tembaga. Tak hanya itu, lulusan program keahlian ini pun bisa berwirausaha mandiri.

”Di Tumang, Boyolali juga ada sentra ukir ketok dari tembaga. Biasanya lulusan kami diminta untuk mengerjakan produk di sana. Saat praktek kerja lapangan (PKL), mereka juga diminta membantu di Cepogo, hasil produknya ini yang dicari hotel-hotel,” katanya.

Bambang menjelaskan proses pembuatan produk ukir ketok tidak sulit. Ada dua teknik pembuatan, tekan dan pahat. Proses diawali dengan membuat desain produk di kertas gambar. Selanjutnya, gambar desain tersebut dilekatkan di plat tembaga. Baru setelah itu dilakukan pengukiran.

”Proses pembuatan memakan waktu enam sampai delapan jam. Paling sulit adalah proses pengukiran ini. Harus hati-hati dan teliti,” sambungnya.

(rs/aya/fer/JPR)