Tata cara berbusana menurut Hindu telah memiliki makna dan filosofis yang jelas. Namun, tren masa kini membuat kita tidak boleh menutup mata. Karena kenyataannya, banyak gadis Hindu yang menggunakan kamen di atas lutut. Selain itu, kebaya yang digunakan juga memiliki lengan di atas siku. Tak beda jauh dengan pria, mereka juga tak jarang menggunakan udeng atau destar yang tidak disimpul. “Kalau untuk kundangan itu boleh saja, namun tak jarang yang menggunakan untuk persembahyangan di pura,” ujar Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran.

Lebih lanjut dijelaskan Ida Nak Lingsir,  semua hal itu sangat keliru. Dan, tren di kalangan remaja mengenai pakaian adat yang dikenakan untuk bersembahyang ke Pura maupun kegiatan sosial saat ini,  dinilai telah melanggar aturan dan melanggar norma-norma keagamaan. Hal itu mengacu kepada ketidak sesuaiannya dengan konsep Tri Angga.

“Di lain pihak, PHDI sendiri sudah mengimbau kepada pangempon Pura Khayangan Tiga dan Pura Sad Khayangan agar tidak memperkenankan yang bersangkutan untuk masuk jika menggunakan busana yang kurang sopan.” ujar I Gusti Ngurah Sudiana, Ketua PHDI Provinsi Bali.

Peraturan yang mengikat dan tertulis hingga kini memang tidak ada, karena ini lebih dari kesadaran Masyarkat itu sendiri. “Kita yang mengerti tentang norma dan budaya Bali hanya bisa mengimbau dan menjelaskan kepada masyarakat ataupun pangempon pura tentang tata cara berpakaian di kawasan suci,” beber Sudiana.  Dikatakannya,  dalam keseharian tata cara berpakian hendaknya selalu berpegang pada ajaran dharma yang merupakan pokok dari norma agama.

“Peran orang tua ini juga penting dalam menjelaskan pada anak-anak mereka, kalau bisa, orang tua melarang anaknya untuk mengenakan pakaian tidak sopan ke pura.” tutup Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran

(bx/gus /rin/yes/JPR)

Source link