Boleh dikata, tahun 2017 ini merupakan tahun emas untuk Via Vallen. Wanita 26 tahun ini juga berhasil menggeser bintang-bintang dangdut lawas seperti Ayu Ting Ting, Saskia Gothik, hingga Inul Daratista. Sejumlah pengamat memprediksi Via Vallen bakal bertahan lama di puncak singgasana musik dangdut tanah air.

”Dari segi usia, Via Vallen masih relatif muda. Masih empat tahun lagi baru genap 30 tahun. Biasanya kalau seorang bintang sudah masuk kepala tiga, di belakangnya sudah muncul bintang-bintang baru,” ujar Wahyu Hidayat, pemerhati musik di Sidoarjo, kemarin.

Mengapa Via Vallen bisa melejit dan jadi fenomena di blantika dangdut? Wahyu menilai penyanyi yang tinggal di dekat kawasan lumpur Lapindo itu punya sejumlah kelebihan ketimbang penyanyi-penyanyi sebelumnya. Meski kental dengan irama koplo,Via Vallen sama sekali tidak menonjolkan goyangan. Apalagi yang erotis.

”Gaya Via Vallen yang santun, busananya tidak menonjolkan lekuk tubuh, itu antitesis penyanyi-penyanyi koplo yang sangat sensual sejak era Inul dan kawan-kawan. Orang sudah bosan dengan goyangan erotis,” ujar Wahyu.

Sejak dulu industri hiburan selalu mengenal siklus yang selalu berputar. Ada masanya goyang ngebor ala Inul Daratista atau Dewi Perssik sangat disukai masyarakat. Lama-lama aneka goyangan erotis mencapai titik jenuh. Di saat itulah Via Vallen datang membawa style yang berbeda. Lebih muda dan segar.

”Hebatnya, Via Vallen itu tidak muncul tiba-tiba. Via sudah lama merintis karir dari bawah dengan bayaran yang sangat murah. Via konsisten dengan musik dangdut bernuansa pop yang dikoplokan bersama OM Sera. Itu yang membuat Via punya jutaan fans Vylanisty,” ujarnya. 

Tidak banyak artis atau band yang punya basis fans. Slank punya Slankers atau Rhoma Irama dengan Soneta Fans Club. Nah, Via Vallen sudah punya komunitas fans yang kuat sebelum menembus sebagai penyanyi papan atas di tingkat nasional. ”Jadi, sekarang Via tinggal panen sembari mempertahankan loyalitas Vylanisty. Dan menambah penggemar di seluruh Indonesia,” katanya.

Yang juga mencengangkan, menurut Wahyu, Via Vallen ternyata disukai masyarakat di luar Jawa. Padahal lagu-lagu hit Via menggunakan syair dalam bahasa Jawa. Bisa dipastikan orang Kalimatan, Sulawesi, Sumatera, atau Papua tidak mengerti jeritan hati Via Vallen. 

”Bagaimanapun juga dangdut koplo itu berkembang dari Jawa Timur sehingga syair dan coraknya sangat Jawa Timur. Tapi ternyata bisa diterima karena gaya koplo ini yang lagi market friendly,” ujar pria 40an tahun itu. (sda/rek)

(sb/rek/rek/JPR)