Padahal, virus yang pertama kali ditemukan di Jepang pertama 1871 itu sangat berbahaya. 8,5 persen penderitanya meninggal dunia.

Untuk mengantisipasi terus menularnya virus JE, Diskes Bali bersiap menyelenggarakn imunisasi massal.

Imunisasi virus JE yang akan dilakukan 1 Maret mendatang di Tabanan itu merupakan satu-satunya di Indonesia.

Imunisasi diperuntukkan bayi usia 9 bulan hingga remaja usia 15 tahun. Diskes menarget imunisasi sampai 946 ribu orang.

“Yang diserang virus JE adalah radang otak manusia umur 15 tahun ke bawah. Walau demikian orang dewasa bisa kena. Imunisasi ini gratis,” jelas pejabat asal Buleleng itu.

 Ditanya kenapa imunisasi hanya di Bali, dijelaskan Suarjaya, imunisasi di Bali karena populasi babi di Bali banyak.

Virus JE yang dibawa dan ditularkan nyamuk jenis culex dengan cepat berkembang biak jika menggigit babi.

Gigitan nyamuk pada babi membuat babi sebagai amplifoer house atau memperbanyak jumlah virus.

“Nyamuk culex adalah nyamuk rumahan. Saat membawa virus JE dan menggigit manusia, maka akibatnya fatal bisa menyebabkan kematian. Nah, kalau menggigit babi maka virusnya berkembang banyak,” jelas pria berkacamata itu.

Suarjaya menyarankan kepada masyarakat yang memiliki kandang babi untuk menjaga kebersihan. Sebab, jika kandang babi kotor maka nyamuk berkembang menjdai banyak.

Tumpukan sampah dan barang bekas yang bisa menjadi sarang nyamuk juga perlu dibersihkan. Kendati demikian, Suarjaya menegaskan bahwa daging babi sangat aman dikonsumsi meski sudah terserang virus JE.

Sebab, babi hanya sebagai amplifier house, bukan sebagai penular. “Daging babi yang sudah dimasak sangat aman dikonsumsi. Penyebaran virus JE melalui nyamuk culex,” pungkasnya.

(rb/san/mus/mus/JPR)

Source link