Fauzi mengatakan, rakor tersebut menjadi ajang evaluasi kegiatan yang sudah dijalankan pada  2018. Menurut dia, Visit Sumenep adalah milik bersama, bukan hanya satu atau dua instansi. ”Bahkan program ini bukan hanya milik pemkab, melainkan juga milik masyarakat dan semua orang yang ada di Sumenep,” ungkapnya.

Rakor itu juga dihadiri seluruh kepala OPD dan camat. Selain mengevaluasi program yang sudah dijakankan, pada rakor tersebut dilakukan koordinasi untuk mempersiapkan program pengenalan batik Sumenep yang bertema Batik on The Sea yang akan digelar pada Minggu (25/2).

Fauzi berharap, setiap kegiatan dapat menimbulkan efek domino. Artinya, setelah kegiatan berakhir bisa meningkatkan branding Sumenep sebagai daerah wisata. ”Seharusnya setelah kagiatan dilakukan, akan tumbuh keinginan untuk berkunjung atau kembali berkunjung dari wisatawan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga mengajak setiap pihak untuk menghadiri acara Batik on The Sea. Dia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan minat wisatawan terhadap batik Sumenep. ”Kami inginnya, setelah event ini jika ada wisatawan dari luar Madura datang, mereka akan mencari batik Sumenep,” harapnya.

 Dengan adanya event batik, dia ingin ada regenerasi pembatik di Sumenep. Fauzi ingin banyak pemuda yang terlibat dalam proses produksi batik. ”Ide-ide kreatif itu datang dari anak muda. Kalau yang tua mungkin tinggal berpikir bagaimana bertahan. Tapi kalau yang muda pasti berpikir untuk berkembang,” pungkasnya.

(mr/aji/han/bas/JPR)